Hal yang Perlu Diketahui soal Retakan Boeing Garuda dan Sriwijaya

18 Oktober 2019 9:40 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
'Garuda Indonesia Vintage Flight Experience' menggunakan pesawat Boeing tipe 737-800NG. Foto: Dok. Garuda Indonesia.
zoom-in-whitePerbesar
'Garuda Indonesia Vintage Flight Experience' menggunakan pesawat Boeing tipe 737-800NG. Foto: Dok. Garuda Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menemukan crack atau retakan pada pesawat Boeing 737-800 NG milik maskapai Garuda Indonesia (1 unit) dan Sriwijaya Air (2 unit).
ADVERTISEMENT
Retakan ditemukan pada pesawat Boeing 737-800 NG yang memiliki umur akumulasi lebih dari 30.000 Flight Cycle Number (FCN).
FCN merupakan akumulasi dari pesawat take off dan landing, di mana setiap pesawat terbang dan mendarat dihitung 1 kali FCN.
Lalu, bagaimana komentar dari pihak-pihak terlibat?

Menhub Minta Kedua Maskapai Periksa Seluruh Pesawat

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengatakan, belum mendapat laporan berapa kerugian oleh masing-masing maskapai. Hanya saja, Budi Karya meminta kepada maskapai untuk melakukan pemeriksaan kembali kepada seluruh pesawat milik masing-masing perseroan.
"Tiga pesawat grounded tapi kita juga memberikan suatu rekomendasi pada maskapai agar melakukan suatu cek kepada pesawatnya," katanya saat ditemui di Hotel Westin, Jakarta, Kamis (17/10).
ADVERTISEMENT

Ahli Nilai Retakan di Pesawat Boeing Tak Wajar

Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang dan Head of Design Organization PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, Andi Alisjahbana menjelaskan, crack adalah retakan pada bahan struktur pesawat. Retakan biasanya terjadi pada aluminium yang merupakan bahan dasar sebagian besar struktur pesawat.
Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang dan Head of Design Organization PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, Andi Alisjahbana (tengah). Foto: Dok. Kemenperin
Untuk kasus pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya, Boeing sebetulnya telah merancang agar tidak terjadi crack sampai usia 90.000 FCN. Sementara crack di pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air terjadi pada usia 30.000-an FCN atau baru sepertiga dari standar usia yang ditetapkan pabrikan. Menurut Andi, hal itu dipandang cukup aneh.
“Yang menjadi masalah ialah Boeing merancang agar seharusnya tidak terjadi crack sampai 90,000 FC,” ungkap Andi kepada kumparan.
ADVERTISEMENT

Garuda Indonesia Langsung Grounded 1 Boeing 737-800 NG

PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) (GIAA) memberikan penjelasan terkait temuan crack pada 1 pesawat Boeing 737-800 NG miliknya. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan menjelaskan, armada tersebut sudah di-grounded sejak 5 Oktober 2019.
Proses grounded ditempuh setelah Garuda Indonesia melakukan pengecekan mendalam terhadap 3 unit pesawat Boeing 737-800 NG yang memiliki umur akumulasi lebih dari 30.000 FCN.
"Dari 3 itu, ketemu 1 crack (1 pesawat yang terdapat retakan). Pesawat itu langsung di-grounded per 5 Oktober," kata Ikhsan kepada kumparan, Selasa (15/10).