Kumparan Logo

Harga Bawang Putih Melonjak, Kerugian Konsumen Rp 247 Miliar dalam 2 Pekan

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bawang putih di Pasar Klender, Jakarta. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bawang putih di Pasar Klender, Jakarta. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Penyebaran virus corona membuat pemerintah antisipasi di sektor ekspor impor Indonesia dengan China. Imbasnya, harga salah satu komoditas yang diimpor dari China, bawang putih, melambung tinggi.

Kenaikan bawang putih ini sudah berlangsung lebih dari dua pekan. Bahkan harga komoditas ini mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengeluarkan riset mengenai kerugian yang dialami konsumen di Jakarta akibat melonjaknya harga komoditas ini.

Menurut peneliti INDEF Mirah Midadan, konsumen di Jakarta mengalami kerugian hingga Rp 247 miliar dalam dua pekan akibat naiknya bawang putih.

“Kerugian konsumen (deadweight loss) karena kenaikan harga bawang dari 2-14 Februari, sebesar Rp 247 miliar atau seperempat triliun atau setara 8,2 juta cangkir kopi,” ujar Mirah dalam acara diskusi INDEF terkait masa depan pertanian, di ITS Tower Jakarta Selatan, Selasa (18/2).

Diskusi INDEF mengenai pertanian masa depan, di ITS Tower, Jakarta Selatan, Selasa (18/2). Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Penelitian itu, kata Mirah, menggunakan asumsi konsumen membeli dengan harga di atas Rp 50.000 di Jakarta dalam rentang waktu dua pekan itu, dengan rata-rata konsumsi sebanyak 1,3 juta kilogram (kg) per hari dalam skala nasional.

“Ini kita menggunakan asumsi dengan konsumsi bawang putih harian itu sebanyak 1,3 juta kg secara nasional, asumsi konsumsi total impor per tahun 480 ribu ton (2019),” jelasnya.

Mirah juga mengatakan, yang menarik adalah kenaikan harga paling tinggi secara nasional justru terjadi di Jakarta. Padahal ibu kota negara ini merupakan tempat pertama bermuaranya impor yang memungkinkan ditekannya biaya pengiriman.

Bawang putih yang dijual di pasar. Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

“Kita lihat ada yang paling menarik adalah harga bawang putih DKI itu paling tinggi se-nasional. Padahal bawang putih itu masuk pertama kalinya ke Jakarta, jadi enggak butuh biaya transportasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan, kenaikan justru paling tinggi terjadi di pasar-pasar tradisional. Sehingga ia menilai, disetopnya impor karena virus corona bukan satu-satunya faktor penyebab.

“Yang menarik adalah harga bawang putih di pasar tradisional lebih tinggi daripada di pasar modern. Tradisional rata-rata lebih dari Rp 55.000, sementara modern banyak yang di bawah itu. Apakah karena corona atau faktor lain,” pungkas Mirah.