Kumparan Logo

Harga Minyak Meroket, Bahlil Ingin Percepat Mandatori Campuran Etanol ke BBM

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers terkait konflik di Timur Tengah, Selasa (3/3/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers terkait konflik di Timur Tengah, Selasa (3/3/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ingin mempercepat penerapan kebijakan mandatori campuran bioetanol ke BBM. Langkah itu merespons harga minyak dunia yang meroket hingga tembus USD 118 per barel.

Melonjaknya harga minyak tersebut dipengaruhi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang belum ada tanda-tanda mereda.

“Karena kalau harga minyak fosilnya bisa melampaui USD 100 per barel, maka itu akan lebih murah kalau kita blending (campur),” ujar Bahlil ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (9/3).

Bahlil sebelumnya berencana untuk mewajibkan kandungan etanol sebesar 20 persen pada BBM atau E20 pada 2028 untuk mengurangi impor bensin. Kebijakan tersebut dapat diimplementasikan lebih cepat apabila melihat bagaimana dinamika geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi negara-negara yang masih bergantung dengan energi fosil.

“Kami bikin mandatori untuk bensin dan itu lebih bersih,” tegas Bahlil.

Unit truk Hino dalam rangkaian pengujian bahan bakar Biodiesel B50 di Rest Area KM 102 Tol Cikopo-Palimanan, Kamis (22/1/2026). Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Selain mandatori E20, Bahlil juga berencana mempercepat implementasi kebijakan biodiesel 50 persen atau B50. B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri atas 50 persen solar dan 50 persen Bahan Bakar Nabati (BBN) berbasis kelapa sawit.

Saat ini, Indonesia menerapkan mandatori B40, sementara mandatori B50 masih di dalam kajian.

“Jadi, ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Sudah barang tentu dengan kondisi yang ada, maka pemerintah berpikir untuk mencari alternatif terbaik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional,” ujar Bahlil.

video story embed