Heboh Data Bocor, Ini 5 Modus Pencurian Identitas: Pinjol sampai Survei Online
ยทwaktu baca 2 menit

Data 279 juta penduduk Indonesia bocor dan ditawarkan untuk dijual secara online. Data tersebut mulai dari nama, jenis kelamin, usia, hingga kelengkapan identitas yang sangat spesifik seperti NIK (Nomor Induk Kependudukan), nomor telepon, alamat email dan rumah, hingga informasi gaji.
Hingga saat ini, belum ada hasil penyelidikan pasti soal sumber kebocoran data sebanyak itu. Sementara dihimpun kumparan dari berbagai sumber, setidaknya ada 5 modus pencurian data pribadi yang harus Kamu waspadai:
Tawaran Pinjaman Online (Pinjol)
Tawaran pinjaman online berseliweran masuk ke handphone, mulai dari SMS hingga aplikasi pesan instan lainnya. Untuk menarik minat calon korbannya, kadang tawaran itu diiming-imingi pesan bahwa tidak perlu survei. Peminjam hanya diminta melengkapi data pribadi, biasanya dengan meng-klik link yang diberikan. Selain itu, juga diminta mengirim foto KTP.
Lowongan Kerja Online
Iklan lowongan kerja online, khususnya yang menyebar tanpa sumber yang valid melalui aplikasi pesan singkat, jadi salah satu modus pelaku pencurian data pribadi. Lazimnya pelamar kerja, memang menyertakan data-data pribadi dilengkapi dokumen pribadi seperti KTP, ijazah, dan dokumen lain yang diminta perusahaan.
Pengecekan Validitas Data di KTP
Modus lain yang dilakukan pencuri data pribadi, juga dengan berpura-pura mengecek validitas data di KTP calon korbannya. Modus ini bisa dilakukan secara konvensional, yakni pelaku menemui calon korban dan meminta diperlihatkan KTP untuk dicek/difoto. Bisa juga dengan menyebar link online untuk diisi sejumlah data oleh calon korban.
Belanja Online
Belanja online juga menjadi salah satu modus pengumpulan identitas data pribadi. Khususnya ketika pembeli yang jadi korban, mengisikan data-data transaksi seperti alamat pengiriman dan metode pembayaran. Sasaran dari modus ini juga bisa juga dari kalangan penjual atau seller, yang diiming-imingi tawaran barang murah atau modal usaha. Ujungnya, calon korban diminta mengirim data pribadi dengan alas untuk melihat profil usaha.
Survei Online
Ada juga modus mencuri identitas data pribadi melalui survei online abal-abal. Pelaku bisa mengatasnamakan survei pemerintah, lembaga pendidikan, atau dunia usaha. Sebelum masuk ke pertanyaan survei, dalam kuesioner online biasanya pelaku meminta responden mengisi sejumlah data.
Untuk menghindari pencurian data pribadi, yang harus diperhatikan adalah menjaga jangan sampai berpindah tangan ke sembarang orang. Kalau pun untuk suatu keperluan, Kamu harus memberikan data pribadi, pastikan relevansi data yang diminta serta kredibilitas institusi yang meminta data pribadi tersebut.
