HUT ke-77 RI 2 Pekan Lagi, Penjual Bendera Dadakan Mulai Mengais Cuan Tambahan

6 Agustus 2022 20:10
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Penjual bendera musiman di Jalan Palmerah, Sabtu (6/8/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penjual bendera musiman di Jalan Palmerah, Sabtu (6/8/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
ADVERTISEMENT
Peringatan HUT ke-77 RI menyisakan waktu dua minggu lagi. Momen tersebut, dimanfaatkan oleh para penjual bendera musiman untuk mengejar pendapatan tambahan.
ADVERTISEMENT
Salah satunya, Sudana, pria asal Cirebon itu rela mencari peruntungan di Ibu Kota saat menjelang hari kemerdekaan tiba. Kepada kumparan, Sabtu (6/8), ia mengaku sudah melakoni pekerjaan sebagai penjual bendera musiman sejak dirinya masih belia.
Saat itu, tahun 1991 di mana usianya masih 17 tahun, Ia memberanikan diri datang ke Jakarta untuk menjual bendera di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Ia bercerita, pada zaman dulu harga bendera yang berukuran kecil masih dibanderol seharga Rp 1.000 hingga Rp 1.500. Namun, saat ini harga bendera dengan ukuran yang sama sudah mengalami kenaikan menjadi Rp 10.000.
Tidak jarang juga, pembeli menawar bendera berukuran kecil hingga Rp 5.000 untuk satu bendera. Tentunya, Ia memahami bahwa kondisi dulu dan sekarang sudah sangat berbeda apalagi antusias masyarakat sudah mulai berkurang.
ADVERTISEMENT
"Kalau dulu RT-nya mengharuskan pasang bendera jadinya kan ramai. Kalau sekarang tidak tahu bendera juga banyak (tersisa) yang sudah lama, stok lama disimpan. Jadi kan penjualannya kurang, kalau bisa yang baru lah," kata Sudana.
Penjual bendera musiman di Jalan Palmerah, Sabtu (6/8/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penjual bendera musiman di Jalan Palmerah, Sabtu (6/8/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
Ia bersama 11 orang penjual bendera musiman lainnya mengontrak sebuah rumah di daerah Slipi untuk bisa berjualan bendera di Jakarta.  Mereka sudah tinggal di sana mulai dari 28 Juli lalu sampai 16 Agustus nanti.
Sebelumnya, Sudana bekerja sebagai pembuat kursi rotan di Cirebon. Ia melihat adanya potensi mendapatkan keuntungan lebih dari penjualan bendera musiman untuk menghidupi keluarganya ketimbang menganggur menunggu pesanan rotan.
"Iya (keuntungannya lumayan), namanya juga musiman nunggunya lama. Kalau jualan biasa kan normal tidak bisa buat pulang dan buat makan," kata Sudana.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, Sudana bersama teman lainnya bekerja pada orang lain untuk menghasilkan pundi-pundi keuntungan menjelang Kemerdekaan RI. Misalnya, harga bendera kecil dipatok Rp 8.000, Ia menjualnya seharga Rp 10.000.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Melalui keuntungan tersebut, Sudana menggunakannya untuk biaya hidupnya selama di Jakarta dan untuk dibawa pulang ke rumah.
Selama masa pandemi COVID-19, Sudana mengaku tidak ada tambahan pemasokan, karena Ia tidak berjualan bendera musiman di Jakarta. Omzet hariannya sebelum pandemi bisa tembus Rp 500.000.
"Ya gitu-gitu aja lah, tidak tentu juga sih kadang-kadang Rp 500.000," ungkap Sudana.
Penjual bendera musiman di Jalan Palmerah, Sabtu (6/8/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penjual bendera musiman di Jalan Palmerah, Sabtu (6/8/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
Sementara, pada tahun 2022, ia bisa mendapatkan Rp 200.000 sampai Rp 250.000 setiap harinya. Angka tersebut, apabila dikalikan selama 16 hari dapat mencapai Rp 4 juta.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Ia menilai omzetnya tidak seperti sebelum pandemi apalagi Ia harus membiayai kehidupannya selama di Jakarta. "Sehari Rp 200.000-250.000, kalau buat makan, buat yang lain ya bagaimana ya? Jelas kurang, minimal lah ya dapat Rp 500.000 sehari biar bisa dibawa pulang," keluh Sudana.
Sementara itu, pendapatannya kian menurun mendekati tanggal 16 Agustus, ini berbanding terbalik dua tahun yang lalu di mana setiap tanggal 10 ke atas pembeli yang belanja makin ramai.
"Ini baru dapat 150 hari ini," lanjut Sudana.
Sudana mulai berjualan dari pagi sampai sore dengan mendorong gerobaknya dari Slipi menuju Palmerah selama hampir satu jam untuk mencapai lokasi tempatnya berjualan.
"Gitu kan enak, kita tidak capek keliling-keliling, sakit kaki sampai keras semua muter-muter," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Adapun, harga bendera yang dijualnya bervariasi mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 280.000. "Bendera kecil Rp 10.000, umbul-umbul kadang Rp 30.000-40.000, ketron paling mahal kisaran Rp 200.000-280.000, kalau tiang sendiri Rp 15.000-25.000 tergantung pembeli," tandas Sudana.