IHSG Diprediksi Tembus 6.850, Simak Deretan Saham yang Diprediksi Cuan di 2021

Sejumlah emiten diprediksi bakal meraup cuan di bursa saham di sepanjang 2021 ini. Pertambangan, perbankan, perkebunan, hingga konstruksi menjadi sektor yang dinilai bakal moncer pergerakannya.
Analis saham Indropremier Sekuritas, Mino, menyebut untuk emiten konstruksi bakal didominasi BUMN seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT ADHI Karya Tbk (ADHI), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
“Saham-saham mereka berpeluang cuan seiring dengan proses pemulihan ekonomi global dan domestik yang membaik,” kata Mino saat dihubungi kumparan, Selasa (29/12).
BUMN lain yang juga bakal terdongkrak harga sahamnya karena tren emiten infrastruktur yang bakal menghijau adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Proyek infrastruktur seperti ibu kota baru yang bakal dilanjutkan akan membuka juga pemasangan aliran gas yang selama ini menjadi bisnis utama PGAS.
Sektor lain adalah emiten di bidang keuangan seperti bank-bank BUMN mulai dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT BRI Syariah Tbk (BRIS). Sementara dari swasta, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga akan cuan.
Analis saham MNC Sekuritas, Edwin Sebayang, juga menilai saham-saham konstruksi akan terbang tahun depan. Anak usaha dari BUMN di bidang infrastruktur seperti PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) juga bakal mendulang cuan.
Dia menilai bakal melejitnya saham-saham infrastruktur tahun depan karena pemerintah menyatakan bakal tetap melanjutkan sejumlah proyek pembangunan tahun depan, termasuk ibu kota baru di Kalimantan. Belum lagi, pembangunan jalan tol di Sumatera yang dikerjakan BUMN masih lanjut terus.
"Lalu (pembangunan) jalan tol di Kalimantan dan Sulawesi. Ini akan menambah potensi (cuan) emiten infrastruktur, intermoda, dan gas," kata Edwin dalam acara Investasi Pilihan Tahun 2021 yang disiarkan YouTube Berita Satu.
Prospek ini sejalan dengan dibentuknya Lembaga Investasi Indonesia (LPI) yang akan mengumpulkan modal dari investor luar negeri. Hal itu juga bakal berpengaruh pada proyek-proyek infrastruktur dalam negeri.
Sedangkan di sektor tambang, Analis saham sekaligus pendiri LBP Institute, Lucky Bayu Purnomo, menilai sejumlah emiten yang diramal mendulang cuan adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Indonesia Tbk (TINS).
Saham-saham mereka diperkirakan akan hijau di tahun depan seiring dengan meningkatnya harga komoditas batu bara, emas, timah, minyak mentah, gas bumi, dan sumber daya energi lainnya di tahun depan.
“Jangan lupa juga, sektor perkebunan juga akan cuan karena harga komoditas CPO (minyak kelapa sawit) dalam kondisi bagus. Jadi underlying untuk emiten seperti PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)," kata Lucky kepada kumparan.
Berikut saham-saham pilihan utama yang kumparan rangkum dari ketiga analis:
Sektor konstruksi: ADHI, WIKA, PTPP, WSKT, WTON, WSBP
Sektor pertambangan: PTBA, ADRO, TINS, ANTAM, INCO
Sektor perbankan: BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, BTN, BRIS
Sektor intermoda, jalan tol, dan gas, PURA, JSMR, PGAS
Sektor perkebunan: AALI, LSIP
Sektor otomotif: ASII
Sektor industri dasar: KRAS
Sektor kebutuhan pangan: INDF, ICBP
Sementara itu, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menilai, dengan pemulihan ekonomi dan reformasi kebijakan di Indonesia pada tahun depan, Mandiri Sekuritas menargetkan IHSG akan mencapai 6.850 di akhir 2021.
Optimisme ketersediaan vaksin serta ekspektasi produksi, distribusi, pelaksanaan vaksinasi, dan penerimaan masyarakat di 2021 diharapkan dapat mempercepat terjadinya herd immunity di masyarakat. Vaksinasi tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali beraktivitas seperti normal, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan daya beli.
“Kami melihat ada enam katalis yang akan mendorong kenaikan pasar saham di Indonesia, antara lain, pemulihan ekonomi yang didorong vaksinasi, normalisasi dengan konsolidasi industri pasca pandemi, likuiditas global dan domestik yang melimpah, suku bunga global yang rendah, kenaikan harga komoditas, serta dimulainya reformasi struktural pemerintah,” papar Adrian.
Perbaikan ekonomi global dan domestik akan menguntungkan saham-saham cyclical dan juga komoditas. Faktor kedua adalah konsolidasi industri yang akan terjadi, khususnya di perusahaan-perusahaan yang memiliki struktur modal besar dan memungkinkan untuk ekspansi.
Selanjutnya, Adrian menyoroti likuiditas domestik yang berlimpah diharapkan akan meningkatkan sisi permintaan konsumsi jika vaksinasi sukses dilaksanakan di Indonesia. Sehingga saham-saham yang merupakan proxy dari konsumsi domestik yang bersifat discretionary akan diuntungkan.
Dari faktor global, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari suku bunga global yang rendah dan likuiditas yang masih berlimpah. Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia masih sangat menarik, sehingga mendorong arus dana asing masuk ke Indonesia.
Faktor terakhir adalah reformasi struktural pemerintah melalui Omnibus Law yang akan mengubah cara pandang investor asing terhadap Indonesia, dan juga berlangsungnya hilirisasi di industri mineral yang akan berdampak positif terhadap neraca perdagangan Indonesia di kemudian hari.
“Hal ini akan berdampak positif terhadap penguatan daya beli di kemudian harinya, dan reformasi inilah yang membuat Indonesia berbeda ke depannya,” ujarnya.
