Imbas Virus Corona dan Perang Minyak, Harga BBM Bakal Turun?

Harga minyak dunia anjlok hingga 20 persen di tengah kekhawatiran produsen utama global yang tidak akan memangkas produksi, padahal permintaan menurun akibat berjangkitnya virus corona.
Menyusul Rusia yang menolak penurunan produksi, Arab Saudi melakukan langkah serupa. Sebelumnya Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mendorong penurunan produksi untuk tetap mempertahankan harga minyak di level yang cukup tinggi. Arab Saudi justru akan meningkatkan produksi minyak mentah mulai bulan depan.
Turunnya harga minyak mentah tentu berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM). Meski demikian, Menteri ESDM Arifin Tasrif enggan terburu-buru menetapkan penyesuaian harga BBM di dalam negeri. Pihaknya masih akan mencermati dulu situasinya hingga beberapa waktu ke depan.
"Kita masih akan lihat ini temporary atau bagaimana. Tiba-tiba kita antisipasi, eh ternyata naik lagi kan enggak tahu," kata Arifin saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/3).
Kementerian ESDM, sambungnya, memperhitungkan berbagai faktor dalam penetapan harga BBM. Mulai dari harga minyak mentah, kurs dolar AS, hingga daya beli masyarakat. "Itu faktor juga untuk sama2 dikalkulasi," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, harga minyak mentah jenis Brent telah jatuh sejak Januari, menjadi hanya USD 45 per barel setelah wabah virus corona. Pada Jumat (6/3) harga turun hampir 10 persen setelah mencuat kabar bahwa upaya OPEC untuk memangkas produksi batal disepakati.
Produsen OPEC seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, diperkirakan akan mengikuti jejak Arab Saudi dengan penurunan harga minyak dan peningkatan produksi mulai April.
