Indef Kritik Isi Debat Pilpres 2024: Hanya Fokus pada Pembangunan IKN
·waktu baca 4 menit

Ekonom Indef, Esther Sri Astuti, mengkritik jalannya debat Pilpres 2024 yang baru berlangsung hingga putaran kedua. Menurutnya, isu yang dibahas dalam ajang adu gagasan itu kurang membumi dan hanya berfokus pada pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
"Debat kemarin belum memberikan suatu solusi yang jitu untuk perekonomian Indonesia, karena ide-ide yang dikemukakan oleh para pasangan capres maupun cawapres itu belum membumi," kata Esther dalam Diskusi Publik 'Evaluasi dan Perspektif Ekonom Perempuan INDEF terhadap Perekonomian Nasional, Kamis (28/12).
Esther bilang, gagasan yang dikeluarkan pada saat debat hanya ingin menjadikan Indonesia sebagai negara besar melalui Indonesia Emas. Namun, gagasan itu tidak dilengkapi dengan investasi yang cukup kepada sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.
"Kita tahu untuk menjadi negara yang punya kekuatan ekonomi yang besar pada tahun 2045 itu membutuhkan investasi SDM, kemudian modal yang besar dan teknologi," ungkapnya.
"Malah beberapa programnya itu diarahkan ke masalah pembangunan IKN maupun infrastruktur yang menurut saya bukan menjadi program prioritas," tambah Esther.
Janji Manis Capres dan Cawapres
Pertumbuhan Ekonomi
Paslon nomor urut 1, Anies-Cak Imin menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,5-6,5 persen, Ganjar-Mahfud 7 persen, dan Prabowo-Gibran 7 persen. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2023 ada di angka 5,17 persen.
Pertumbuhan Ekonomi Manufaktur
Saat ini angka pertumbuhan ekonomi sektor yang memproduksi barang fisik melalui pengolahan bahan mentah ke produk jadi ini ada di angka 4,67 persen.
Dari tiga pasangan capres-cawapres, hanya Ganjar-Mahfud yang menargetkan pertumbuhan ekonomi manufaktur. Mereka menyebut bakal dinaikkan menjadi 7,5-8 persen.
Tingkat Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem
Tingkat kemiskinan di era Jokowi, yaitu 9,36 persen. Dalam kurun waktu 9 tahun, Jokowi bisa menurunkan kemiskinan hingga 1,86 persen.
Anies-Imin menargetkan tingkat kemiskinan 4-5 persen. Sementara Ganjar-Mahfud 2,5 persen. Adapun Prabowo-Gibran menargetkan kemiskinan di bawah 6 persen.
Sementara itu, semua capres-cawapres sepakat menurunkan angka kemiskinan ekstrem menjadi 0 persen. Saat ini, angka kemiskinan ekstrem ada di angka 1,74 persen.
Penciptaan Lapangan Kerja
Anies-Imin menargetkan lebih dari 15 juta lapangan kerja. Sementara Ganjar-Mahfud 17 juta. Di era Jokowi 2014-2019, lapangan kerja yang dibuka mencapai 13 juta.
Tingkat Inflasi
Parameter ini hanya dilirik oleh Anies-Imin, dan menaruh target inflasi di angka 2-3 persen. Saat ini angka inflasi ada di angka 2,28 persen.
Tingkat Pengangguran Terbuka
Sama dengan parameter tingkat inflasi, parameter ini juga hanya dilihat oleh Anies-Imin, dan menargetkan tingkat pengangguran terbuka mencapai 3,5-4 persen. Sementara, saat ini angkanya ada di 5,45 persen.
Rasio Utang Pemerintah terhadap PDB
Baik Ganjar-Mahfud maupun Prabowo-Gibran tak menjanjikan apa-apa soal rasio utang pemerintah terhadap PDB. Sementara Anies-Imin menargetkan utang ada di bawah 30 persen.
Menurut UU No.1/2003 tentang Keuangan Negara, rasio utang Pemerintah adalah maksimal 60 persen dari PDB. Saat ini rasio utang ada di angka 37,93 persen.
Tax Ratio
Saat ini, tax ratio ada di angka 10,4 persen dari PDB. Sementara, Anies-Imin menjanjikan tax ratio mencapai 13-16 persen, Ganjar-Mahfud tak menyinggung soal hal tersebut.
Nah, Prabowo-Gibran justru menjanjikan penerimaan negara mencapai 24 persen. Angka tersebut merupakan gabungan dari tax ratio dan PNBP (Penerimaan negara bukan pajak).
Energi Baru Terbarukan
Anies-Imin menargetkan EBT mencapai 22-25 persen dari total pembangkit listrik PLN. Sementara target EBT Ganjar-Mahfud mencapai 25-30 persen. Adapun Prabowo-Gibran tak menyebut target sama sekali.
EBT merupakan energi yang berasal dari alam dan dapat terus diproduksi tanpa menunggu jutaan tahun seperti energi fosil. Contoh EBT adalah energi surya, energi angin, energi air, energi biomassa, hingga energi panas bumi.
Pembangunan Hunian dan Backlog Kepemilikan Rumah
Berdasarkan catatan kumparan, Presiden Jokowi sudah membangun 8,4 juta hunian. Namun angka tersebut merupakan angka akumulasi sejak ia menjadi presiden pada 2014 lalu.
Ganjar-Mahfud menjanjikan adanya 10 juta hunian. Sementara Prabowo-Gibran menargetkan 40 rumah per desa/kelurahan per tahun. Prabowo-Gibran menyebut akan ada 3 juta rumah di tahun keduanya jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Adapun Anies-Imin tak menjanjikan apa-apa di sini.
Sementara itu, Anies-Imin menjanjikan backlog kepemilikan rumah turun menjadi 8 juta unit. Backlog merupakan kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan rumah. Saat ini backlog kepemilikan rumah ada di angka 12,71 juta.
Peningkatan anggaran riset/inovasi
Berdasarkan data R&D World, anggaran riset di Indonesia ada di angka 0,24 persen pada 2022. Itu merupakan anggaran riset terendah di dunia.
Anies-Imin jadi satu-satunya kandidat yang tidak menawarkan peningkatan anggaran riset. Adapun Ganjar-Mahfud menjanjikan anggaran riset di angka 1 persen, sedangkan Prabowo-Gibran menargetkan 1,5-2 persen.
