Indef Prediksi Ekonomi RI Tak Banyak Terganggu Tarif Impor 32 Persen dari AS
·waktu baca 2 menit

Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal turun 0,05 persen imbas pengenaan tarif impor Amerika Serikat (AS) ke RI 32 persen.
"Nah kalau Indonesia ini memang hanya tergerus sebesar 0,05 persen tidak terlalu besar," jelas Heri secara daring, Jumat (4/4).
Menurutnya, Indonesia masih cukup banyak berdagang dengan negara lain seperti India, Uni Eropa, China, dan kawasan ASEAN, alias tak begitu bergantung oleh pasar AS. Dia menuturkan, negara yang paling besar terganggu ekonominya adalah Vietnam, yakni sebesar 0,84 persen.
Dalam arti, jika ekonomi Vietnam dimungkinkan tumbuh 5 persen, dengan adanya kebijakan tarif impor Trump ini maka 5 persen tersebut akan menjadi 4,16 persen. Karena, bagi Vietnam, peranan pasar AS cukup penting.
Vietnam terkena tarif impor sebesar 46 persen dari AS atau salah satu yang terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara.
"Yang paling besar terkena dampak itu Vietnam, mereka akan mengurangi pertumbuhan sebesar 0,84 persen," ujar Heri.
Lalu China diprediksi penurunan ekonominya sebesar 0,61 persen, Thailand penurunan ekonomi 0,35 persen, dan Malaysia diprediksi bakal turun 0,11 persen ekonomi.
"Bagi AS sendiri mereka akan terkontraksi ekonominya sebesar 0,09 persen, ini akan menimbulkan dampak negatif di negaranya," ungkap Heri.
Heri memperkirakan dampak pengenaan tarif terhadap pertumbuhan produksi (output) akan mengganggu ekspor di sektor manufaktur Indonesia sebesar 22,11 persen, disusul perlengkapan elektronik 10,14 persen, dan tekstil serta apparel sebesar 7,34 persen penurunan.
Selanjutnya, dampak resiprokal tarif terhadap ekspor dan impor Indonesia secara keseluruhan juga diprediksi merosot 2,83 persen untuk ekspor, dan 2,22 persen untuk impor.
