INDEF Sebut Investor Berlabuh ke Mata Uang Selain Dolar Imbas Perang Dagang AS

17 April 2025 16:16 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang petugas menghitung pecahan Dolar AS dan Rupiah di kawasan Kwitang, Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang petugas menghitung pecahan Dolar AS dan Rupiah di kawasan Kwitang, Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
Perang tarif yang digencarkan Amerika Serikat terhadap banyak negara, khususnya China, memiliki dampak ke pasar mata uang. Kondisi ini disebut membuat investor justru berlabuh di mata uang selain dolar AS.
ADVERTISEMENT
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengungkap dolar AS justru melemah jika dibandingkan mata uang lainnya.
"Ternyata, pilihan mereka kalau dilihat dari sisi ini adalah lebih kepada mata uang global yang lain selain Dolar, ada Euro, Yen, dan lain-lain," kata Eko dalam Webinar Perang Dagang dan Guncangan Pasar Keuangan pada Kamis (17/3).
"Kemudian ketika dikomparasi dengan dolar, mata uang ini bisa dikatakan safe haven dari situasi yang terjadi," lanjutnya.
Selain itu Eko juga mengungkap selain ke beberapa mata uang lain, investor juga berlari ke emas alih-alih memilih dolar. Hal ini dilihat Eko melenceng dari ekspektasi Donald Trump yang memiliki ekspektasi terdapat perpindahan investor ke obligasi AS saat pasar saham AS dan dolar melemah akibat kebijakan tarifnya.
ADVERTISEMENT
“Emas memang dari dulu ya sudah menjadi safe haven dan salah satu yang memang mudah dicerna dalam konteks investasi ya dibandingkan antar mata uang,” kata Eko.
Eko turut menjelaskan alasan mengapa mata uang selain dolar dan emas lebih dipilih oleh investor Menurutnya hal ini karena investor tidak mau mengambil risiko yang terlalu tinggi pada dolar dan obligasi AS.
Petugas melayani penukaran uang dolar AS di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (17/4/2024). Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus Rp16.250 ribu per dolar AS pada Rabu (17/4/2024). Foto: Sulthony Hasanuddin/Antara Foto
"Investor menilai tingkat risiko dari ekonomi Amerika Serikat meningkat sehingga kemudian mereka meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk obligasi Amerika Serikat yang tenornya jangka pendek jadi itu gambaran bahwa ada masalah di dalam perekonomiannya," ujarnya.
Di samping itu, ekonom INDEF lainnya Iwan Sugema melihat dalam beberapa waktu belakangan memang terdapat perebutan soal mata uang apa yang akan digunakan sebagai platform perdagangan global.
ADVERTISEMENT
“Apakah US dollar, dulu kan hanya dua antara US dolar dan Euro. Besok-besok ada Renminbi ada Yuan, kita enggak tau dinamika apa ke depan,” kata Iwan.
Ia juga memproyeksi terdapat peluang perubahan platform mata uang dalam perdagangan global seiring munculnya BRICS sebagai poros ekonomi baru. Hal ini menurutnya juga menjadi alasan Trump meluncurkan tarif impor baru ke beberapa negara.
“Kalau mereka akan membuat mata uang bersama, maka dunia persilatan akan berubah total tuh, nah kita tidak bisa ketahui pasti timingnya seberapa cepat,” ujarnya.
“Karena tren itu Trump sudah me-launch kebijakan kalau BRICS menggunakan mata uang dagang tertentu selain USD Ia akan menetapkan tarif 100 persen,” kata Iwan.