Kumparan Logo

Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Negara Maju Tahun 2038

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (18/7/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (18/7/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Kemenko Bidang Perekonomian menyampaikan Indonesia berpotensi bebas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) paling cepat pada tahun 2038 dan paling lambat pada 2045.

Sekretaris Kemenko Perekonomian (Sesmenko), Susiwijono Moegiarso, mengatakan jebakan middle income trap berpotensi membuat pendapatan suatu negara melambat.

"Kita terjebak pada negara berpendapatan menengah atau middle income trap sudah 33 tahun, karena sejak tahun 1993 kita memasuki ke lower middle income," katanya saat acara Laporan Hasil Kajian Sistemik Ombudsman RI, Rabu (17/12).

Susiwijono mengatakan, tidak semua negara di dunia bisa keluar dari posisi negara berpendapatan menengah. Dia mencontohkan sejumlah kisah sukses negara-negara di Asia dari jebakan middle income trap.

Jepang menjadi menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) alias negara maju pertama di Asia sekitar tahun 1960-an. Kemudian, Singapura menjadi negara maju pada tahun 1979, disusul Hong Kong tahun 1988, dan Korea Selatan sekitar tahun 1995-an.

Peluang Indonesia

Suasana Gedung bertingkat di kompleks Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2025). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO

Susiwijono menyebutkan, berdasarkan catatan Asian Development Bank (ADB), beberapa negara di ASEAN berpeluang keluar dari middle income trap. Pertama yaitu Malaysia, yang saat ini sudah mencapai level pendapatan per kapita USD 11.670.

"ADB kemarin menyampaikan kira-kira Malaysia akan bisa keluar di tahun 2028, karena memang sudah 10 tahun yang lalu (pendapatan per kapita) mereka sudah di atas USD 10.000," jelas Susiwijono.

Kemudian Thailand, yang saat ini memiliki pendapatan per kapita USD 7.120, diprediksi menjadi negara maju pada tahun 2037.

Sementara Indonesia dengan pendapatan per kapita saat ini USD 4.910, bisa menjadi negara maju dalam kurun 2038-2045 tergantung capaian pertumbuhan ekonomi.

"Indonesia, pada beberapa perhitungan kemarin sebenarnya masih bisa kita percepat misalkan di 2038, dengan berbagai persyaratan yang pertumbuhan ekonomi harus 7-8 persen dan sebagainya, atau sesuai dengan program Indonesia Emas kita di 2045," ungkap Susiwijono.

Dalam visi Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan pendapatan atau Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sebesar USD 30.300. Adapun saat ini ambang batas negara berpendapatan tinggi berada di USD 15.000, namun batas ini kemungkinan akan terus meningkat.

"Threshold untuk naik ke high income itu kan naik terus. Kemarin-kemarin masih USD 12.000, sekarang sudah hampir USD 15.000. Nanti pada saat kita bicara di 2045 mungkin sudah di atas USD 25.000 untuk disebut sebagai high income country," tuturnya.

Aksesi OECD Bantu Naikkan Investasi

Susiwijono menilai, salah satu cara keluar dari middle income trap adalah dengan menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), melihat banyak negara Eropa bisa menjadi negara maju saat masuk European Union (EU).

"Kalau mau betul-betul mendorong kita bisa menjangkau ke high income country upayanya harus terstruktur, karena itu salah satu upaya yang kita dorong melakukan aksesi ke OECD," tegasnya.

Menurut Susiwijono, salah satu dampak terbesar jika Indonesia menjadi anggota OECD adalah kenaikan investasi asing alias Foreign Direct Investment (FDI).

Kendati begitu, dia menilai masih banyak tantangan lain yang bisa menghambat Indonesia keluar dari middle income trap, seperti produktivitas yang relatif stagnan, kelembagaan institusi yang masih lemah, lalu terkait masalah sumber daya manusia, hingga terkait kapasitas ekonomi.

"Kalau kita aksesi OECD, di mana kita semakin dipercayai dengan negara lain, maka yang naik duluan adalah FDI, Foreign Direct Investment," tandasnya.

instagram embed