Kumparan Logo

Industri Farmasi Diramal Makin Cerah Pasca Pandemi, Potensinya Capai Rp 106 T

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertumbuhan Industri Farmasi Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Pertumbuhan Industri Farmasi Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Industri farmasi menjadi salah satu sektor primadona di tengah pandemi COVID-19. Potensi ekonomi di industri ini semakin menjanjikan dengan kemunculan layanan telemedicine seiring dengan perubahan kebiasaan masyarakat.

"Potensi ekonomi telemedicine ke depan akan berkembang terus. Dari tahun lalu ke tahun ini karena COVID-19, perkembangannya melebihi beberapa ratus persen," ujar CEO KlikDokter Hendra Heryanto Tjong dalam Webinar Peran Digitalisasi Dalam Mengembangkan Inovasi dan Bisnis di Industri Farmasi, Rabu (17/11).

Dia menuturkan, estimasi pangsa pasar atau market size layanan kesehatan di Indonesia sangat besar, yaitu sekitar Rp 106 triliun. Paling besar di kategori produk farmasi dengan market size Rp 66 triliun, diikuti oleh produk nutrition sebesar Rp 30 triliun, over the counter (OTC) sebesar Rp 10 triliun, dan medical device sebesar Rp 6 triliun.

"Dari farmasi di Indonesia, total itu ada 20.000 sekarang. Jadi market yang lumayan gede dan harusnya paling gede di ASEAN," jelas Hendra.

Selain itu, Hendra memaparkan data, sebanyak 53 persen masyarakat Indonesia datang dari generasi tech savvy dan health enthusiast, yaitu generasi Z sekitar 28 persen, dan generasi Y sebanyak 25 persen dari total penduduk Indonesia sebesar 271 juta jiwa.

Dengan data tersebut, Hendak menyatakan potensi ekonomi telemedicine di industri farmasi sangat menjanjikan. "Seharusnya dalam 5 tahun ke depan akan tumbuh lebih stabil karena COVID akan berkurang juga dan mungkin menghilang," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menjelaskan, potensi ekonomi di sektor telemedicine ini sangat cerah, namun perkembangannya harus melalui peran beberapa stakeholder.

"Saya rasa (potensi ekonomi) sungguh cerah ceria ya, dan tentu saja kemampuan untuk industri digitalisasi ini pentahelix collaboration, jadi peran multi stakeholders. Tidak hanya dari bisnis platform digital informasi saja, tapi juga harus duduk bareng dengan praktisi kesehatan dan stakeholder kemasyarakatan, dan juga advokasi dengan pemerintah," jelas Hermawan.

Menurut penuturannya, layanan telemedicine di Indonesia faktanya telah hadir sejak tahun 2017 sebelum pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Saat ini, dia mencatat ada 11 aplikasi yang bergerak di layanan telemedicine.

"Roadmap digitalisasi kesehatan itu dimulai tahun 2017, dengan adanya uji coba telemedicine untuk konsultasi dan diagnosa. Di tahun 2020 diuji dengan COVID-19, sehingga aplikasi menjadi well-implemented. Di 2021, ada 11 aplikasi konsultasi online dan obat gratis pasien isoman yang terbit," jelas Hermawan.

Dia menambahkan, ada beberapa tantangan di dalam upaya digitalisasi industri farmasi, paling tidak pada aspek layanan, platform, dan penggunaan oleh masyarakat. Adapun tantangan secara finansial dari penggunaan telemedicine yaitu return of investment (ROI) harus tercatat dengan baik dan jelas.

"Tantangan finansial terutama dari segi investasi, bagaimana return of investment, kemudian return of asset, profitability index, dan lain-lain ini menjadi tantangan dari segi platform, termasuk juga dari segi penggunaan masyarakat," ujarnya.

Kemudian, tantangan juga datang dari sisi security payment dan kemudahan untuk pembayaran. Menurut Hendrawan, hal tersebut harus dipikirkan di awal karena urusan pembayaran ini sangat penting.