Kumparan Logo

Industri RI Darurat Bahan Baku Gas Bumi Imbas Perang, Biaya Operasi Naik 8,5%

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembangunan Pabrik OLNG, LPG, dam Kondensat oleh PT Sumber Aneka Gas yang terintegrasi & merupakan Pabrik LNG ke-2 di Pulau Jawa &  OLNG Terbesar di Pulau Jawa. Foto: Dok. SKK Migas
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan Pabrik OLNG, LPG, dam Kondensat oleh PT Sumber Aneka Gas yang terintegrasi & merupakan Pabrik LNG ke-2 di Pulau Jawa & OLNG Terbesar di Pulau Jawa. Foto: Dok. SKK Migas

Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) mengungkapkan pelaku usaha tengah mengalami darurat bahan baku gas bumi di tengah disrupsi logistik di Timur Tengah imbas perang antara AS-Israel dan Iran.

Ketua FIPGB, Yustinus Gunawan, mengungkapkan saat ini pasokan gas bumi dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dipatok USD 7 per MMBTU dibatasi pasokannya, sementara harga regasifikasi gas alam cair (LNG) sekitar USD 15 per MMBTU.

"Industri pengguna gas sedang darurat bahan baku dan logistik ekspor terdampak eskalasi Timur Tengah," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Kamis (26/3).

Yustinus mencatat, rata-rata harga gas dan regasifikasi saat ini naik menjadi di sekitaran USD 10 per MMBTU, atau hampir 50 persen lebih mahal daripada skema HGBT yang harganya dipatok pemerintah.

Ilustrasi tanker LNG. Foto: Stefan Dinse/Shutterstock

"Bila porsi biaya gas bumi 20 persen dari biaya produksi, maka biaya produksi naik sekitar 8,5 persen," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Yustinus menyarankan pemerintah agar menunda ekspor gas bumi karena tarif pengangkutannya (freight) sedang sangat tinggi, dan fokus pada penyerapan oleh industri dalam negeri.

Pelaku industri pengguna gas bumi, lanjut dia, pun mendesak Presiden Prabowo Subianto segera menginstruksikan pasokan gas bumi skema HGBT sejumlah 100 persen alokasi sesuai Kepmen ESDM 76.K/2025, alias tidak ada pembatasan pasokan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

"Tindakan cepat tegas dan ditegakkan ini untuk jaga daya saing industri, untuk menangkal impor dan masih bisa ekspor, untuk menjaga stabilitas serapan tenaga kerja," tegas Yustinus.

Fasilitas produksi gas alam cair ( LNG ) Qatar Energy , di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Kota Industri Ras Laffan , Qatar , 2 Maret 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Perang di Timur Tengah semakin memanas usai serangan Iran ke fasilitas energi di Qatar, memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dari kawasan Teluk Arab. Serangan pada Kamis (19/3) tersebut menyebabkan kerusakan besar di pusat gas utama Qatar.

Serangan rudal pada Rabu menghantam Kota Industri Ras Laffan di pesisir utara Qatar. Serangan tersebut merusak fasilitas gas-ke-cair, dan berlanjut pada Kamis pagi dengan dampak yang lebih luas. QatarEnergy menyatakan serangan lanjutan memicu kebakaran besar dan kerusakan lebih lanjut yang luas pada sejumlah fasilitas gas alam cair (LNG).

instagram embed