Kumparan Logo

Ini Alasan AS Ikut Intervensi Yen Jepang: Demi Stabilitas Ekonomi Asia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengangkat artikel Washington Post tentang usulan uang kertas 250 dolar dengan potret Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Kamis (28/5/2026). Foto: Kylie Cooper/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengangkat artikel Washington Post tentang usulan uang kertas 250 dolar dengan potret Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Kamis (28/5/2026). Foto: Kylie Cooper/REUTERS

Amerika Serikat (AS) mengungkap alasan di balik keputusan bergabung dengan Jepang dalam intervensi pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pelemahan yen yang dinilai terlalu dalam berisiko mengganggu stabilitas ekonomi di kawasan Asia.

Dikutip dari The Mainichi, Kamis (6/8), dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (28/7) lalu, Bessent menyebut depresiasi yen bisa memicu pelemahan mata uang negara-negara Asia lainnya.

"Saya pikir yen yang stabil bukan hanya penting bagi AS, tetapi juga sangat penting bagi seluruh kawasan. Jika yen melemah secara signifikan, maka mata uang lain juga akan ikut melemah," kata Bessent.

Bessent menilai kondisi tersebut perlu dicegah mengingat besarnya perekonomian Jepang, arus perdagangan, serta peran negara itu dalam pasar tabungan global.

"Pemerintah Jepang memahami hal itu, dan kami bangga berdiri bersama mereka dalam menjalankan kebijakan tersebut serta membantu menjaga stabilitas kawasan," jelas dia.

Pernyataan itu muncul dua hari setelah Bessent mengkonfirmasi AS dan Jepang melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing saat perdagangan New York pada Jumat (31/7) lalu untuk memperkuat yen.

Intervensi pembelian yen bersama terakhir antara AS dan Jepang terjadi pada 1998, ketika krisis keuangan Asia melanda kawasan.

Bessent juga mengaku memiliki hubungan kerja yang sangat baik dengan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Ia optimistis Tokyo bakal terus mengambil langkah yang diperlukan agar nilai tukar yen kembali ke tingkat yang lebih seimbang.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida bersama Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda menunjukkan uang kertas baru 10.000 yen, 5.000 yen dan 1.000 yen mulai diedarkan, di kantor pusat BOJ di Tokyo, Jepang, Rabu (3/7/2024). Foto: Takahiko Wada/REUTERS

Saat mengkonfirmasi intervensi yen, baik Bessent maupun Katayama menegaskan otoritas keuangan kedua negara takkan ragu melakukan aksi terkoordinasi lagi apabila diperlukan.

Intervensi terbaru ini menjadi yang pertama sejak 2011, ketika AS, Jepang, dan negara-negara Group of Seven (G7) bersama-sama melakukan intervensi di pasar valuta asing setelah gempa bumi dan tsunami besar melanda Jepang timur laut yang memicu krisis nuklir terburuk sejak bencana Chernobyl 1986.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan Jepang meminta ‘sedikit bantuan’ untuk menopang yen. Menurutnya, aksi bersama tersebut merupakan sinyal persahabatan sekaligus menguntungkan perekonomian AS dan ekonomi global.

Lebih lanjut, Bessent turut memuji kebijakan ekonomi Jepang selama bertahun-tahun melalui kombinasi pelonggaran moneter agresif, stimulus fiskal, dan reformasi struktural yang dikenal sebagai Abenomics.

"Jepang telah keluar dari deflasi, dan mereka kembali. Saya pikir kami bisa memberikan sinyal kepada pasar, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kebijakan dan fundamental ekonomi. AS memutuskan ikut serta karena kami sangat optimistis terhadap arah kebijakan mereka," katanya.

Saat ditanya apakah Bank of Japan (BOJ) perlu kembali menaikkan suku bunga, Bessent menolak memberikan arahan.

"Saya sudah mengenal Gubernur Kazuo Ueda lebih dari 15 tahun, dan saya yakin dia akan melakukan apa yang memang diperlukan," sebut Bendahara Negara AS itu.

Bessent juga mengatakan melalui unggahan di platform X pekan lalu bahwa dirinya menantikan pertemuan dengan Ueda pada akhir Agustus di North Carolina, dalam forum para menteri keuangan dan gubernur bank sentral Group of 20 (G20).

Pelemahan yen terhadap dolar AS dalam beberapa tahun terakhir sebagian dipicu oleh perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang. Namun, sejak Sanae Takaichi menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang, tekanan terhadap yen meningkat seiring kekhawatiran pasar terhadap memburuknya kondisi fiskal Jepang akibat kebijakan fiskal yang lebih ekspansif.

"Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mendukung Jepang dengan cara yang juga menguntungkan ekonomi AS, para pembayar pajak AS, serta menjaga stabilitas ekonomi global," tutur Bessent.