Kumparan Logo

Investasi Asing Berebut Masuk ke Indonesia

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sri Mulyani di Komisi XI DPR. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sri Mulyani di Komisi XI DPR. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Indonesia kini menjadi rebutan investor asing. Mereka umumnya ingin menanamkan investasi di sektor infrastruktur. Pemerintah sendiri memang berkomitmen membuka peluang lebar-lebar bagi investasi asing terutama untuk pembangunan jaringan infrastruktur transportasi, seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan bandar udara. Pengembangan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan daya saing nasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, setidaknya ada 2 negara besar yang memiliki minat cukup besar berinvestasi membangun infrastruktur di Indonesia, yaitu Jepang dan China. China contohnya, Negeri Tirai Bambu ini ingin membangun infrastruktur di Indonesia guna memperkuat jalur sutra.

Baca juga: Jokowi Minta Layanan Investasi Dikebut Usai S&P Naikkan Peringkat RI

"Mengenai belt and road initiative (Inisiatif Jalur Sutera) di Beijing. di mana Pemerintah China sampaikan juga pentingnya membangun infrastruktur dalam menghubungkan dari mulai Afrika, Asia Selatan, Asia Tengah, Tenggara, sampai Timteng, dengan suatu investasi di bidang infrastruktur, yang juga perlu didukung melalui kebijakan-kebijakan ekonomi," ujar Sri Mulyani saat ditemui di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (22/5).

Infrastruktur PT PP (Persero) (Foto: http://www.pt-pp.com)
zoom-in-whitePerbesar
Infrastruktur PT PP (Persero) (Foto: http://www.pt-pp.com)

Selain itu, ada beberapa organisasi dunia yang menyatakan minatnya mengucurkan dana untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Misalnya Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IDB). Lalu kenapa banyak negara yang berminat berinvestasi di sektor infrastruktur di Indonesia?

"Indonesia dianggap memiliki income per kapita di level middle class dan dari sisi keseimbangan antara fondasi makroekonomi, apakah itu dilihat dari moneter, fiskal, neraca pembayaran, maupun ambisi dari sisi sektoralnya, yaitu infrastruktur, industri, maupun dari sisi kesiapan pemerintah untuk alokasi di human capital, itu semua cocok dengan apa yang mereka ingin lihat dan investasikan," sebut Sri Mulyani.