Investasi Sektor Perhotelan RI Bisa Capai Rp 2,43 Triliun per Akhir 2025
·waktu baca 2 menit

Jones Lang LaSalle Incorporated (JLL) Indonesia memproyeksikan aktivitas investasi sektor perhotelan di Indonesia bisa mencapai sekitar USD 150 juta atau setara dengan Rp 2,43 triliun (kurs Rp 16.202) hingga akhir 2025.
EVP Investments Sales, Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pacific, Julien Naouri, menyatakan sentimen investor terhadap pasar hotel yang tersebar di Tanah Air tetap tangguh, terutama di tengah dinamika global yang sedang tidak menentu. Julien mencatat, transaksi investasi di sektor perhotelan Indonesia telah tercatat sekitar USD 20 juta pada paruh pertama 2025.
“Pada paruh pertama 2025, tercatat transaksi (investasi) di Jakarta senilai sekitar USD 20 juta. Kami memperkirakan akan terjadi peningkatan aktivitas investasi menjelang akhir tahun, dengan total nilai transaksi diproyeksikan mencapai USD 150 juta,” jelas Julien dalam Media Briefing di Kantor JLL Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (13/8).
Julien membeberkan, investor masih menunjukkan minat pada segmen hotel upper upscale dan luxury, terutama yang berafiliasi dengan merek internasional ternama serta memiliki potensi reposisi, karena dinilai dapat memberikan kontrol operasional dan fleksibilitas yang lebih besar.
“Perkiraan peningkatan aktivitas investasi ini juga didorong oleh perkembangan sektor pariwisata Indonesia dan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Dalam paparan Julien, Thailand masih memimpin pasar modal hotel di Asia Tenggara di luar Singapura, dengan total investasi sebesar USD 321 juta, didorong oleh persebaran risiko yang positif dan kinerja industri pariwisata yang kuat dari negara tersebut.
Okupansi Hotel Turun 4,1 Persen di Semester I 2025
Julien juga menyampaikan kinerja pasar perhotelan Indonesia di Semester I 2025. Hingga Juni 2025, hotel-hotel di Jakarta mencatat pertumbuhan pendapatan per kamar tersedia (RevPAR) meskipun tingkat okupansi mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Tingkat okupansi mengalami penurunan sebesar 4,1 poin persentase secara tahunan. Namun, hotel-hotel tetap mampu mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan dengan kenaikan sebesar 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelas Julien.
Ia menambahkan, pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan rata-rata tarif harian (average daily rate/ADR) yang tumbuh 10 persen secara tahunan. Dari sisi pasokan, Jakarta masih memiliki sekitar 59.000 kamar hotel.
Data JLL memaparkan pasokan hotel eksisting di Jakarta pada kuartal II 2025 mencapai 59.157 kamar, dengan tambahan pasokan 1.512 kamar yang akan hadir pada periode 2025 hingga 2027.
