Kumparan Logo

Investigasi Kilang Minyak Balongan: Diduga Tersambar Petir, BMKG Sempat Revisi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepulan asap hitam dari kebakaran tangki minyak milik Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/3/2021). Foto: Dedhez Anggara/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kepulan asap hitam dari kebakaran tangki minyak milik Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/3/2021). Foto: Dedhez Anggara/ANTARA FOTO

PT Pertamina (Persero) melaporkan hasil investigasi empat tangki di Kilang Minyak Balongan Terbakar yang terjadi pada 29 Maret 2021. Hasilnya, diduga tangki tersambar petir sehingga bocor dan meledak.

Kesimpulan investigasi itu diambil Pertamina berdasarkan analisis dari hasil empat investigator di lapangan. Mereka adalah Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) yang berada di bawah BPPT, Pusat Penelitian Petir LAPI ITB, Ditjen Migas Kementerian ESDM, dan satu lembaga luar negeri yaitu Det Norske Veritas (DNV).

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Djoko Priyono, menjelaskan hasil penyebab kebakaran tangki Balongan oleh keempat investigator tersebut berbeda-beda. Namun, Pertamina mengambil kesimpulan yang condong pada hasil pengecekan Pusat Penelitian Petir LAPI ITB.

Untuk penyebab kebocoran, Djoko mengatakan kesimpulannya adalah terjadinya sambaran petir travelling pada pukul 23.09 WIB (28 Maret 2021) yang menyebabkan degradasi pada dinding/plat atau las-lasan di tangki G.

"Ini menyebabkan penurunan penipisan dinding/plat atau las-lasan tangki G, disusul dengan robek dan bocornya dinding tersebut akibat tekanan mekanik dari dalam tangki yang telah terisi BBM pada level mendekati penuh," kata Djoko dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (29/9).

Untuk penyebab kebakaran, kesimpulan Pertamina adalah terjadi akibat sambaran petir atau induksi pada tangki G yang berdampak terjadinya segitiga api yaitu udara oksigen, vapor hydrocarbon, dan sambaran petir.

Dirut PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Djoko Priyono (kanan ketiga), memperlihatkan kondisi tangki usai berhasil dipadamkan, pada konfrensi pers di HO Pertamina RU IV Cilacap, Jateng, Minggu (13/6/2021). Foto: Idhad Zakaria/ANTARA FOTO

Ditjen Migas dan NDV Sebut Kebakaran Dipicu Tangki Korosi

Berdasarkan penjelasan Djoko, diketahui juga dua hasil investigasi menyebut tangki mengalami korosi yaitu Ditjen Migas dan NDV. Berdasarkan temuan Ditjen Migas, kebocoran disebabkan kegagalan dari las-lasan akibat korosi. Ditjen Migas ambil sampel pada plat tangki pada 5 hari pascakebakaran.

Djoko menyebut sampel yang diambil Ditjen Migas itu bisa saja sudah dalam kondisi teroksidasi karena terpapar udara. Ditjen Migas juga menyebut penyebab kebakaran karena ada unsur segitiga api. Namun, indikatornya berbeda yaitu segitiga api berasal dari udara, kebocoran hidrokarbon (isi BBM) di dinding tangki, dan panas yang diduga dari trafo area SS024 yang menyulut kebakaran.

Terkait trafo ini, Djoko membantahnya. Sebab, saat kejadian berlangsung tidak ada aliran listrik di situ. Circuit breaker terkunci dan tidak menimbulkan panas.

Investigasi DNV menyatakan penyebab kebocoran karena korosi pada dinding bagian dalam tangki yang tidak terdeteksi saat inspeksi dilakukan sebelum dinding tangki mencapai kondisi kritis yang diakibatkan pembebanan yang melebihi batas kemampuan saat itu. Djoko menyebut, sampel yang diambil adalah sampel plat tangki pasca kebakaran, sama seperti Ditjen Migas.

Petugas berusaha memadamkan api di kilang minyak Balongan. Foto: Pertamina

Dugaan Tersambar Petir Dikuatkan Data PLN dan Revisi Laporan BMKG

Namun, kesimpulan akhir Pertamina lebih condong pada hasil investigasi LAPI ITB yang menyebut ledakan dipicu oleh sambaran petir. Hal ini, menurut Djoko, dikuatkan juga oleh data PLN.

"PLN Puslitbang memiliki alat untuk mendeteksi petir yaitu Lightning Detection System (LDS). Dari pengukuran LDS terhadap radius 15 km di area kilang sepanjang pukul 23:00 hingga 01:00 WIB, terdapat 241 sambaran petir," kata Djoko.

Selain itu, BMKG juga sempat merevisi laporannya terkait petir.Djoko menyebut pihak BMKG telah merevisi laporan pada 31 Maret 2021 melalui laporan ME.02.03/379/KLEM/III/2021 yang dikeluarkan pada 1 April 2021.

"BMKG semula dia menyatakan tidak ada tapi melakukan revisi bahwa sepanjang 23.00 WIB-01.00 WIB memang terjadi kumpulan awan-awan dan juga terjadinya sambaran petir dalam radius 17 kilometer," katanya.

Padahal sebelumnya, BMKG menegaskan bahwa kebakaran yang melanda Kilang Minyak Balongan di Indramayu, Jawa Barat bukan disebabkan oleh sambaran petir.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Rahmat Triyono mengatakan hal tersebut berdasarkan alat monitoring lightning detector yang berlokasi di BMKG Jakarta dan BMKG Bandung.

"Dari pukul 00.00 hingga pukul 02.00 WIB, bahwa tidak terdeteksi adanya aktivitas sambaran petir di wilayah kilang minyak Balongan, Indramayu," kata Rahmat saat itu.