Jangan Senang Dulu, 'Jokowi Effect' ke Rupiah Diprediksi Sementara

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebagai dampak unggulnya Jokowi-Ma'ruf Amin dalam hasil perhitungan cepat (quick count) di sejumlah lembaga survei diprediksi hanya sementara.
Berdasarkan perdagangan Reuters siang ini pukul 13.00 WIB, dolar AS berada di level Rp 14.025 per dolar AS, menguat dibandingkan perdagangan hari sebelumnya yang menyentuh level Rp 14.105 per dolar AS. Bahkan rupiah sempat menguat ke level Rp 13.995 per dolar AS pada pukul 09.16 WIB.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan, terlalu dini untuk menyebut penguatan rupiah sebagai 'Jokowi Effect.' Menurutnya, penguatan rupiah belum tentu terus berlanjut hingga pekan depan.
"Saya kira penguatan ini masih terlalu dini. Kita belum bisa mengharapkan ini terus berlanjut minggu depan," ujar Piter kepada kumparan, Kamis (18/4).
Piter bilang, ada sejumlah alasan yang membuat penguatan rupiah diprediksi hanya sementara. Salah satunya hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru keluar pada 2 Mei mendatang, sehingga beberapa investor masih akan menunggu.
"Kemenangan ini masih berdasarkan quick count, belum resmi. Paslon nomor 02 bahkan masih mengklaim kemenangan. Jadi belum official dan ada kemungkinan berlanjut ke gugatan ke MK. Jadi investor masih akan menunggu," jelasnya,
Selanjutnya, potensi gangguan dari pihak yang kalah masih akan ada. Terakhir, penguatan rupiah masih akan ditentukan oleh kondisi global.
"Kalaupun nanti hasil resmi KPU menetapkan Jokowi sebagai pemenang, potensi gangguan masih tetap ada kalau paslon nomor 02 tetap tidak menerima. Ketiga, kalau KPU sudah resmi menetapkan Jokowi pemenang dan Prabowo menerima, rupiah masih tetap dipengaruhi juga oleh kondisi global," katanya.
Adapun kondisi global yang mempengaruhi rupiah di antaranya kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve, hingga ketegangan dagang AS-China.
"Kalau globalnya tetap dovish rupiah dalam jangka menengah panjang berpotensi menguat," tambahnya.
