Jelang IPO, Bukalapak Banggakan Transaksi Capai Rp 85 T di 2020
·waktu baca 2 menit

Startup Bukalapak telah bersiap menjadi perusahaan terbuka dan mencatatkan saham ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Masuknya perusahaan penyedia layanan belanja online itu ke bursa saham, ditandai dengan digelarnya Public Expose Penawaran Saham Perdana hari ini, Jumat (9/7).
Pengenalan dan promosi saham perusahaan yang kini bernama PT Bukalapak.com Tbk ini dipimpin langsung oleh sang Direktur Utama, Rachmat Kaimuddin. Dalam kesempatan tersebut, Rachmat membanggakan kinerja perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat.
Salah satunya, ia membeberkan mengenai pertumbuhan transaksi di platform mereka dalam 3 tahun terakhir. Transaksi ini, menurutnya mengalami pertumbuhan hingga 3 kali lipat dibanding tahun 2018.
"Dari tahun 2018 sampai 2020, Bukalapak berhasil meningkatkan nilai transaksi sebesar 3 kali lipat, dari Rp 28 triliun menjadi Rp 85 triliun," jelasnya dalam acara public expose yang disiarkan secara virtual, Jumat (9/7).
Kinerja positif tersebut, kata Rachmat, juga dibarengi pertumbuhan pendapatan perusahaan sebesar 4,6 kali lipat. Dari Rp 290 miliar menjadi Rp 1,35 triliun, atau tumbuh rata-rata 115 persen tiap tahunnya.
Dia menegaskan, pertumbuhan kinerja positif itu tak diperoleh lewat strategi bakar-bakar uang. Pertumbuhan dengan jalan pintas seperti itu menurutnya, terlalu fana dan tidak bisa menjamin keberlanjutan keuangan perusahaan.
Menurutnya, kinerja perusahaan di tahun 2020 relatif menunjukkan tren positif. Pendapatan perusahaan yang belum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi alias Ebitda juga tercatat naik sebesar Rp 1 triliun.
"Banyak yang bilang, di perusahaan teknologi kalau mau tumbuh lebih besar harus bakar uang yang lebih banyak. Tapi cara pikir kami di Bukalapak sedikit berbeda, kami ingin tumbuh sekaligus memperbaiki profitabilitas keuangan kami," pungkas bos Bukalapak itu.
