Jelang Rilis BPS, Ekonom Prediksi Inflasi Melambat Meski Lampaui 4 Persen

31 Juli 2022 13:26
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan didampingi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan DKI Jakarta meninjau ketersediaan stok pangan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Rabu (27/4). Foto: PPID DKI Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan didampingi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan DKI Jakarta meninjau ketersediaan stok pangan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Rabu (27/4). Foto: PPID DKI Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) bakal merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2022 besok, Senin (1/8). Para ekonom pun meramal IHK di bulan lalu akan mencatatkan inflasi yang melampaui 4 persen. Salah satu sumber tekanan utama yang mendasari hal ini adalah kenaikan bahan pangan dan harga avtur.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi, inflasi Indonesia pada bulan Juli diperkirakan berkisar 0,52 persen secara bulanan (month to month/mom) atau 4,82 persen secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yang mencatatkan inflasi sebesar 0,61 persen mom atau setara dengan 4,35 persen yoy.
"Inflasi pada bulan Juli diperkirakan melambat menjadi 0,52 persen (mtm) dari sebelumnya 0,61 persen (mtm). Meskipun demikian, inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 4,82 persen (yoy) dari sebelumnya 4,35 persen (yoy)," kata Josua kepada kumparan, Minggu (31/7).
Menurut Josua, perlambatan inflasi bulanan diperkirakan didorong oleh perlambatan inflasi dari komponen barang bergejolak. Ia memperkirakan bahwa inflasi tersebut masih relatif tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.
Stok bawang merah dan putih di Pasar Senen, Sabtu (2/4/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Stok bawang merah dan putih di Pasar Senen, Sabtu (2/4/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
Josua menyebutkan, terdapat beberapa komoditas pangan yang masih mendorong inflasi harga bergejolak, mulai dari bawang merah mengalami kenaikan 20 persen (mtm), cabai merah 17 persen (mtm), cabai rawit 5,8 persen (mtm).
Meskipun demikian, terdapat beberapa komoditas pangan yang berkontribusi pada deflasi karena tren harganya cenderung turun antara lain daging ayam -2,4 persen (mtm), bawang putih -2,2 persen (mtm) dan minyak goreng -6,3 persen (mtm).
"Inflasi inti pun juga kami perkirakan melambat secara bulanan, seiring dengan harga emas yang cenderung mengalami penurunan sekitar 2 persen (mtm) dan penurunan harga gula pasir sebesar 0,8 persen (mtm) pada bulan Juli ini," ujar Josua.
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan
Selain itu, lanjut Josua, kenaikan biaya pendidikan tinggi justru tetap mendorong inflasi inti. Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,84 persen (yoy) dari sebelumnya 2,63 persen (yoy).
Dari sisi inflasi barang yang diatur pemerintah, inflasi di komponen ini juga ikut mendorong inflasi yang cenderung masih tinggi, seiring dengan kenaikan beberapa jenis bahan bakar seperti LPG non-subsidi, Pertamax Turbo, DexLite dan juga Pertamina Dex. Adapun, harga tiket pesawat juga masih relatif tinggi akibat masih tingginya harga bahan bakar avtur.
Dihubungi secara terpisah, Ekonom Bank BNI, Chandra Bagus Sulistyo mengatakan bahwa untuk inflasi secara bulanan pada bulan Juni 2002 lebih cenderung terkendali ketimbang bulan Juli 2022. Walaupun pada bulan Juni lalu ada perayaan hari raya keagamaan yang cukup besar yaitu Idul Adha, akan tetapi inflasi cukup terkendali.
Ia menilai, inflasi pada bulan Juli 2022 mengalami penurunan secara bulanannya dari yang sebelumnya 0,61 persen (mtm) menjadi 0,5 (mtm) persen sampai 0,55 persen (mtm) . Sedangkan, secara tahunan berada pada kisaran 4,4 persen (yoy) sampai 4,5 persen (yoy).
"Hal ini masih dipengaruhi oleh fluktuasi terutama harga pangan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian terus berupaya untuk bisa mengendalikan harga terutama harga pangan," ungkap Chandra.
Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (4/7/2022). Foto: Budi Prasetiyo/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (4/7/2022). Foto: Budi Prasetiyo/ANTARA FOTO
Lebih lanjut, Chandra menjelaskan bahwa harga komoditas pangan, seperti harga cabai dan bawang sedang melonjak naik. Untuk itu, pemerintah dengan berbagai kebijakannya mengantisipasi keberadaan fluktuasi harga cabai dan harga bawang di pasaran.
"Apalagi saat ini harga minyak cenderung sangat terkendali dengan adanya kebijakan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan menempatkan menteri baru sehingga bisa melakukan operasi pasar dengan baik," pungkasnya.
Dari sisi moneter, Chandra melihat, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah yang tepat dengan menetapkan suku bunga acuan tetap demi mengendalikan dan mempertahankan inflasi di bulan Juli 2022. Sebab, masih banyak negara yang mendapatkan tekanan dari inflasi yang membuat kebangkrutan.
"Saya kira langkah dari beberapa instansi Kementerian/Lembaga untuk bisa bersinergi mempertahankan inflasi yang terkendali menjadi kunci keberhasilan pemerintah di bulan Juli ini," tandas Chandra.