Kumparan Logo

Jenderal Iran Dibunuh, Harga Minyak Dunia Melonjak

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Protes terhadap pembunuhan Mayor Jenderal Iran Soleimani di depan kantor PBB di Teheran, Iran. Foto: WANA (West Asia News Agency)/Nazanin Tabatabaee via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Protes terhadap pembunuhan Mayor Jenderal Iran Soleimani di depan kantor PBB di Teheran, Iran. Foto: WANA (West Asia News Agency)/Nazanin Tabatabaee via REUTERS

Harga minyak mentah dunia meningkat usai Jenderal Iran sekaligus pemimpin Pasukan Quds, Qasem Soleimani, tewas dalam serangan drone militer AS pada Jumat (3/1). Serangan itu meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan mempengaruhi produksi minyak global.

Dilansir Business Insider, harga minyak mentah dunia jenis Brent naik 3,56 persen ke level USD 68,70 per barel. Sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 3,04 persen ke USD 63,04 per barel.

Tak hanya itu, lonjakan harga juga mendorong harga saham perusahaan minyak di bursa London lebih tinggi, dengan British Petroleum (BP) naik 2,7 persen dan Royal Dutch Shell naik 1,9 persen.

Di pasar saham AS, Dow dan Nasdaq ditutup turun sekitar 0,8 persen, sementara S&P 500 turun 0,7 persen. Padahal sehari sebelumnya, ketiga indeks utama di Wall Street ini mencetak rekor harian tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

Namun demikian, saham perusahaan minyak AS, yakni Exxon Mobil, justru merosot 0,57 poin atau 0,8 persen di penutupan pasar saham.

"Tahun 2020 dibuka dengan nada yang sangat positif. Tapi kejadian ini telah menghentikan optimisme bullish (harga saham yang terus meningkat),” ujar Aneeka Gupta, analis WisdomTree Investments, dikutip dari BBC News, Minggu (5/1).

kumparan post embed

Adnan Mazarei, Ekonom Institut Peterson sekaligus mantan wakil direktur untuk Timur Tengah di Dana Moneter Internasional (IMF), memprediksi ketegangan AS dan Iran akan terus berlanjut dalam waktu yang cukup panjang. Hal ini akan mendongkrak harga minyak lebih tinggi.

"Kemungkinan besar masalah ini tidak akan hilang. Saya perkirakan skenario yang paling mungkin adalah meningkatnya ketegangan, dan jika itu terjadi, (akan ada) kenaikan harga minyak yang lebih tinggi,” jelasnya.

Timur Tengah adalah rumah bagi beberapa produsen minyak terbesar dunia. Adapun seperlima dari pasokan global melewati Selat Hormuz, yang terletak antara Oman dan Iran.

Beberapa produsen terbesar minyak dunia akan terpengaruh jika Selat tersebut tidak dapat dinavigasi dengan aman. Arab Saudi, Irak, Kuwait, Iran, UEA, dan Qatar merupakan negara-negara yang mengirimkan produksi minyaknya melalui Selat Hormuz.

Mazarei mengatakan, ekonomi negara di kawasan Timur Tengah juga rentan. Apalagi investor dalam dan luar negeri juga kemungkinan akan membatasi aktivitas bisnisnya di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran.

Bahkan jika ketegangan AS-Iran mereda, Analis Capital Economics Caroline Bain mengatakan, sejumlah perusahaan minyak akan mengharapkan harga minyak yang lebih tinggi di tahun ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari pembatasan output hingga ketidakpastian ekonomi global.

Pengekangan output, pertumbuhan yang lebih lambat dalam produksi minyak AS, dan pertumbuhan ekonomi global yang masih bertahap," tambahnya.