Jokowi: Semakin Banyak Aturan Semakin Ruwet Negara Ini

Presiden Joko Widodo menghadiri rapat kerja pemerintah dengan Bupati dan Walikota se-Indonesia yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.
Dalam paparannya, Jokowi kembali menitipkan pesan agar para bupati dan walikota, jangan terlalu banyak membuat aturan. Sebab, jumlah peraturan yang ada di Indonesia cukup banyak yaitu 42.000 regulasi. Menurut Jokowi banyak juga aturan tumpang tindih yang bikin negara ini ruwet.
"Oleh sebab itu saya titip kepada bapak-ibu Ketua DPRD dan bupati juga walikota jangan bikin Perda-Perda yang menghambat orang yang ingin berusaha, investasi. Membebani. Saya sampaikan ke DPR sekarang buat Undang Undang jangan banyak-banyak, 1, 2, 3 baik tapi yang mempercepat. Enggak usah banyak-banyak semakin banyak aturan main yang kita buat ya semakin ruwet negara ini," ungkap Jokowi.
Menurut Jokowi yang penting sekarang adalah fokus bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,07% sedangkan di 2018 ditargetkan 5,4%.

"Kita ingin pertumbuhan kita terus meningkat dengan kualitas yang baik dan sekarang ini ada momentumnya karena kepercayaan internasional dan dunia usaha semakin baik," imbuhnya.
Kesempatan itu terbuka lebar sebab peringkat kemudahan berusaha di Indonesia (ease of doing business) meningkat. Pada tahun 2014, Indonesia menempati peringkat ke-120. Sedangkan di tahun 2017 naik drastis menjadi peringkat ke-72. Jokowi pun menargetkan peringkat Indonesia bisa naik lagi di tahun 2019 yatu berada di posisi 40.
Sementara itu, indeks daya saing global atau Global Competitiveness Index Indonesia di tahun 2017 menempati peringkat ke-36. Ditambahkan Jokowi, survei terbaru dari US news menempatkan Indonesia berada di posisi kedua dengan persepsi dan tren terbaik untuk investasi.
"Tapi hati-hati, jangan tepuk tangan dulu, itu persepsi, itu tren. Kalau mereka datang, lalu lapangannya tidak sesuai dengan persepsi yang ada dibenak para CEO-CEO dunia, ya lari-lagi, meloncat lagi, enggak jadi investasi di negara kita," sebut Jokowi.
Momentum tersebut harus benar-benar dimanfaatkan oleh Indonesia. Jokowi menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa naik hanya dengan 2 cara yaitu investasi dan ekspor naik.
"Oleh sebab itu momentum positif ini betul-betul harus kita manfaatkan, baik untuk investasi dalam negeri dan luar. Terutama yang bisa meningkatkan pertumbuhan (ekonomi). Hanya ekspor dan investasi. APBN itu pengaruhnya hanya 20% artinya 80% itu pekerjaannya swasta. Artinya kalau kita bisa mengcreate mereka senang investasi dan menanamkan misalnya. Nah itu yang kita harapkan," jelasnya.
