KAI Kebut Persiapan Operasional Jalur Kereta Garut yang Ditutup Sejak 1983
·waktu baca 3 menit

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bersiap melayani masyarakat Garut dan sekitarnya melalui reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut. Jalur sepanjang 19 km ini akan kembali dioperasikan setelah terakhir kali beroperasi pada 1983 atau 39 tahun lalu.
“Untuk jalur Cibatu-Garut, seluruh aspek baik sarana, prasarana, serta SDM, semua telah siap. Namun kami masih berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan setelah sebelumnya dilakukan safety assessment terkait jalur tersebut,” kata VP Public Relations KAI Joni Martinus dalam keterangan tertulis, Selasa (15/2).
Peninjauan kesiapan pengoperasian jalur Cibatu-Garut telah dilakukan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian, didampingi Direktur KAI, dan Bupati Garut pada Minggu (13/2). Rangkaian uji coba serta trial and run akan terus dilakukan agar dapat segera dilakukan tahapan operasional secara komersial untuk masyarakat umum.
Dalam hal operasional kereta api, KAI memperhatikan unsur keselamatan. Oleh sebab itu, KAI akan menjalankan jalur Cibatu-Garut setelah mendapatkan izin operasional dari Kementerian Perhubungan.
KAI memulai reaktivasi jalur Cibatu-Garut sejak 2018. Di samping jalur kereta api, KAI juga membangun kembali 3 stasiun yang dilewati yaitu Stasiun Pasirjengkol, Wanaraja, dan Garut.
Pada proses reaktivasi ini, KAI tetap menjaga kelestarian aset yang menjadi bagian dari sejarah Kabupaten Garut tersebut. Misalnya pada pembangunan Stasiun Garut, KAI masih menjaga keaslian bentuk bangunannya.
“Untuk mengakomodasi pelanggan dengan jumlah yang lebih besar, KAI juga telah membangun gedung baru yang lebih megah dan modern di Stasiun Garut,” kata Joni.
Guna menunjang kenyamanan pelanggan, Stasiun Garut dilengkapi dengan ruang VIP, ruang laktasi, pos kesehatan, ruang keamanan, area bermain anak, masjid, dan fasilitas lainnya.
Sebelumnya, KAI juga telah meresmikan Masjid Al-fattah yang didirikan di Stasiun Cibatu pada April 2021. Masjid ini dibangun dengan total luas 4.858 m2 dan dapat menampung hingga 1.150 orang. Masjid yang memiliki menara setinggi 30 meter ini dilengkapi dengan fasilitas pedestrian, taman, serta kamar mandi.
Dalam waktu dekat, Jalur Cibatu-Garut akan memberikan konektivitas bagi masyarakat Garut untuk menuju Bandung atau Jakarta dan sebaliknya. Hadirnya transportasi KA di Garut akan memberikan layanan yang nyaman dan tepat waktu bagi masyarakat.
“Reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut juga diharapkan semakin memaksimalkan potensi wisata di wilayah Garut. Sehingga perekonomian masyarakat Garut akan kembali pulih dan terus meningkat,” tutup Joni.
Jalur Kereta Garut 39 Tahun Mati Karena Isu PKI
Jalur kereta Cibatu-Garut pertama kali dibangun pada 1889 oleh maskapai kereta api Hindia Belanda. Tak lama berselang setelah pembangunan, Garut menjadi destinasi wisata populer di era kolonial. Tercatat, pada periode 1900-1940, banyak wisatawan Eropa, dari Inggris, Jerman, Italia, dan Belanda yang berwisata ke Garut.
Melalui jalur ini pula, legenda komedian dunia Charlie Chaplin, mengunjungi Garut. Dia dua kali mengunjungi Garut pada tahun 1932 dan 1936. Kisah keindahan alam dan panorama Garut, dia dengar dari temannya yang bekerja di perkebunan di Pameungpeuk, di wilayah selatan Garut.
Pesona jalur kereta Cibatu-Garut mulai pudar di masa awal Orde Baru. Hal ini dipengaruhi situasi politik, karena banyaknya pekerja kereta api yang tergabung dalam Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), organisasi pekerja yang jadi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).
Rezim Orde Baru memberantas habis SBKA, yang menurut Ibnu meliputi dari dua pertiga pekerja perusahaan kereta. Terjadilah kekurangan tenaga kerja.
"Akibatnya banyak kekurangan tenaga ahli kereta api. Banyak jalur yang ditutup. Termasuk di Cibatu-Garut, dan sebagainya," kata periset sejarah perkeretaapian di Indonesia, Ibnu Murti ke kumparan, Rabu (23/1).
Memasuki era 1970-an, Indonesia menikmati berkah dari oil boom, yakni melonjaknya harga minyak dunia akibat perang Arab-Israel. Melimpahnya penerimaan negara dari minyak, sebagiannya digunakan untuk membangun infrastruktur jalan raya. Seiring dengan itu, investor Jepang masuk untuk mengembangkan industri otomotif yang membuat kejayaan kereta makin pudar.
