KAI Masih Kaji Operasional KRL 24 Jam, Perawatan Jadi Pertimbangan
·waktu baca 2 menit

PT Kereta Api Indonesia (KAI) belum bisa memastikan kapan layanan KRL Jabodetabek beroperasi 24 jam penuh. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut wacana tersebut memang bagus dari sisi pelayanan, namun perusahaan tetap harus berhitung matang sebelum memutuskan.
"Tentunya dari sisi pelayanan pelanggan, ini hal yang positif. Tapi tentunya kita harus menghitungnya (plus minus)," kata Bobby kepada wartawan di Stasiun Gambir, Selasa (25/11).
Bobby menjelaskan pengoperasian kereta tidak bisa dipaksakan tanpa menghitung kebutuhan perawatan. Ia menyoroti pentingnya pengecekan rutin, mulai dari sarana, prasarana, hingga sistem kelistrikan yang menyuplai perjalanan kereta.
"Namanya pengoperasian kereta ini kan tidak sederhana yang kita harus paksakan. Lalu bagaimana elektrifikasinya. Itu kan aliran listrik di atas juga. Kalau aliran listriknya 24 jam, kapan kita mengecek kabelnya," kata Bobby.
Dia mencontohkan insiden layangan yang menyebabkan kereta cepat Whoosh berhenti. Risiko serupa, kata dia, bahkan bisa lebih besar pada jaringan KRL yang jangkauannya lebih luas.
“Jangan-jangan kabelnya seperti teman-teman dengar sendiri. Kalau di Whoosh itu ada layangan nyangkut saja, itu berhenti. Apalagi jaringannya jauh lebih panjang dari Jakarta. Tentunya kita kaji," kata dia.
Bobby memastikan kajian dilakukan bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menurutnya, keputusan hanya akan diambil setelah semua aspek dianalisis secara menyeluruh. Antara lain, keselamatan, operasional dan kenyamanan pelanggan.
“Kita kaji, benar-benar kaji. Sekali lagi yang saya sampaikan tadi, tiga aspek penting yakni satu keselamatan, tentunya berkaitan juga dengan perawatan sarana dan prasarananya. Kedua dari aspek operasionalnya. Yang ketiga kenyamanan buat pelanggan juga," ujar Bobby.
