Kumparan Logo

KAI Rancang Teknologi Automasi demi Cegah Tabrakan Kereta Terulang Lagi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana penumpang kereta api saat libur Isra Mikraj di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (28/2/2022). Foto: KAI
zoom-in-whitePerbesar
Suasana penumpang kereta api saat libur Isra Mikraj di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (28/2/2022). Foto: KAI

PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) tengah merancang penerapan teknologi Automatic Train Protection (ATP) untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ).

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan teknologi tersebut bakal menjadi sistem perlindungan otomatis untuk mencegah potensi tabrakan antarkereta.

“Kami lagi melakukan perencanaan untuk penerapan teknologi yang namanya Automatic Train Protection,” ujar Bobby saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (3/6).

Bobby menyebut selama ini sistem pengamanan perjalanan kereta masih mengandalkan kemampuan masinis.

“Kalau sekarang proteksi dari perjalanan kereta last protectionnya, last defence-nya, ada di masinis,” ucapnya.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menurut Bobby, konsep ATP yang tengah disiapkan KAI mirip dengan teknologi pada LRT Jabodebek yang tanpa masinis (driverless) dan menggunakan sistem komputer untuk mengatur keamanan perjalanan.

“Jadi sensor-sensornya dipasangnya di kereta dan sensor dari penerimanya dipasang di rel,” ucapnya.

Meski demikian Bobby mengakui implementasi teknologi ATP membutuhkan biaya besar dan waktu pengerjaan yang panjang. Sehingga KAI juga mempertimbangkan penggunaan teknologi berbasis satelit dan jaringan nirkabel (wireless).

“Jadi teknologi yang kita sebut dengan FRMCS, The Future Railways Mobile Communication System,” ucap Bobby.

Proses evakuasi gerbong KRL wanita di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026) sore. Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sebelumnya Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, menyoroti ketiadaan ATP pada kereta antarkota di tengah insiden tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur.

Regulasi perlindungan otomasi keselamatan yang harusnya sudah tuntas pada 2019 ini tertahan bertahun-tahun karena terbentur aturan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Akibatnya, keselamatan kereta api antarkota di Indonesia masih bergantung pada mata, kesigapan, dan tangan masinis. Padahal sistem ini memungkinkan otomasi tingkat tinggi saat ada kereta yang berhenti mendadak.

“Istilahnya kalau ada kereta berhenti mendadak [di depan], kereta yang di belakang otomatis berhenti sendiri walau masinisnya tidur... Tapi sekarang masinis masih seperti sopir—kalau ada lampu merah harus berhenti manual. Padahal dengan ATP, walau melanggar sinyal, langsung berhenti keretanya. Kalau ada gempa juga berhenti otomatis,” jelas Deddy.