Kalbe Farma Beberkan Strategi Tekan Ketergantungan Impor Bahan Baku
ยทwaktu baca 2 menit

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyampaikan sejumlah langkah strategis untuk menjaga kinerja perusahaan di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah hingga penurunan daya beli masyarakat.
Direktur PT Kalbe, Kartika Setiabudy, mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga bahan baku yang sebagian besar masih diimpor dari China dan India.
Untuk meredam tekanan tersebut, Kalbe mengalihkan sebagian transaksi impor dari Dolar AS ke mata uang Yuan atau Renminbi (RMB).
"Ada dampak dari pelemahan rupiah ini terhadap USD khususnya. Sehingga memang dalam beberapa tahun terakhir kita sudah mulai melakukan upaya-upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap USD," ucap Kartika kepada wartawan usai RUPST di Gedung Kalbe Business Innovation Center, Jakarta, Kamis (22/5).
Kata Kartika, langkah tersebut merupakan bagian dari kolaborasi melalui joint venture Kalbe di Shenzhen, China. Selain efisiensi biaya, kerja sama ini juga diharapkan memperluas akses terhadap bahan baku berkualitas serta membuka peluang alih teknologi dan inovasi produk.
Di sisi lain, daya beli masyarakat yang masih tertekan juga menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi lini produk konsumen. Meski demikian, Kalbe mencatat tren positif, dengan pertumbuhan divisi produk konsumen sebesar 6,5 persen di 2024 dan proyeksi meningkat menjadi 9 persen pada 2025.
"Tentunya ini adalah suatu divisi yang terdiri dari produk-produk yang sudah sangat dikenal, terutama produknya adalah produk-produk obat ya, tapi kedepannya juga kita ingin mengembangkan lebih ke arah preventif, sehingga potensinya masih baik untuk produk konsumen kesehatan ini," lanjut dia.
Sementara itu Direktur Kalbe Mulialie, menambahkan sekitar dua tahun lalu Perseroan memulai inisiatif joint venture tersebut guna mendekatkan diri ke sumber utama bahan baku farmasi dan inovasi produk.
Menurut Mulialie, strategi ini dinilai tepat karena memungkinkan Kalbe memperoleh bahan baku berkualitas dengan harga kompetitif. Kehadiran di China juga membuka peluang kemitraan strategis dan transfer teknologi, mengingat negara tersebut kini menjadi pusat inovasi di sektor kesehatan.
Targetkan Tumbuh Penjualan 10 Persen
Dilanjutkan Kartika, PT Kalbe Farma Tbk tetap memasang target pertumbuhan optimistis di tahun 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih masing-masing di kisaran 8-10 persen.
"Jadi memang walaupun kondisinya cukup challenging, secara makroekonomi, secara currency, tapi kita menetapkan target di pertumbuhan ini dan kita mengharapkan secara margin masih tetap terjaga," ujar Kartika.
Untuk mendukung ekspansi dan peningkatan kapasitas produksi, Kalbe mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga Rp 1 triliun. Anggaran tersebut bakal digunakan untuk pemeliharaan fasilitas eksisting serta pembangunan kapasitas baru, terutama di segmen farmasi resep.
