Kumparan Logo

Kebijakan AS Membingungkan, Kiblat Ekonomi Duterte Beralih ke China

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rodrigo Duterte Foto: REUTERS/Erik De Castroe
zoom-in-whitePerbesar
Rodrigo Duterte Foto: REUTERS/Erik De Castroe

Pemerintahan Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte mulai memalingkan kiblat ekonominya ke China, setelah kebijakan politik pertahanan Amerika Serikat (AS) di Laut Cina Selatan dianggap membingungkan.

Sebagian wilayah perairan Cina Selatan, telah disengketakan antara China dengan sejumlah negara yang punya akses ke daerah maritim itu. Filipina termasuk yang mengalami tekanan dari sengketa tersebut, namun AS dianggap tak memberi perlindungan dan arahan kebijakan yang jelas terkait masalah ini.

Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Menteri Luar Negeri Filipina mengatakan Teodoro Locsin mengatakan, China memberi tawaran kerja sama yang 'lebih menarik' daripada AS. Dia menyatakan, Presiden Rodrigo Duterte lebih suka tawaran pendanaan dan investasi dari China.

"Tawaran China untuk kemitraan strategis sedikit lebih menarik daripada tawaran strategi AS yang membingungkan," kata Locsin dalam sebuah wawancara di kantornya di Manila.

Hampir 70 tahun lamanya atau sejak 1951, Amerika Serikat dan Filipina menjalin aliansi keamanan dalam skema Mutual Defense Treaty (MDT). Hal ini memungkinkan AS memiliki pangkalan militer di Filipina.

Donald Trump dan Rodrigo Duterte Foto: REUTERS/Jonathan Ernst

Tapi pada akhir 2018 lalu, Duterte telah meminta Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana untuk mereview kerja sama MDT dengan AS tersebut. Kajian itu untuk memutuskan, apakah Pemerintahan Rodrigo Duterte akan mempertahankan, memperkuat, atau bahkan memutus kerja sama.

Pada sisi lain, kerja sama Filipina dengan China semakin erat. Filipina telah bergabung dalam kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas China. Bahkan kedua negara telah meneken 13 kerja sama ekonomi, berupa investasi China ke Filipina senilai USD 24 miliar.

Filipina juga mengambil bagian dalam Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang dipimpin China, dengan menjadi anggota penuh institusi tersebut.

embed from external kumparan

Bahkan sebelum dua kerja sama itu, investasi China di Filipina telah meningkat pesat. "Banyak investasi (China) telah masuk. Dulunya sangat kecil hanya sekitar 50 juta dolar AS pada sekitar dua hingga tiga tahun lalu, sekarang hampir mendekati satu miliar dolar AS," Kata Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Ramon Lopez, kepada Xinhua.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Filipina mengungkapkan, pada 2018 lalu investasi China mencapai USD 48,7 miliar peso atau sekitar Rp 13,6 triliun. Posisi ini menjadikannya investor asing terbesar di Filipina.