Kembang Kempis Pasar Saham di Tengah Pandemi

Merebaknya virus corona berpengaruh besar terhadap pasar saham. Ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi membuat transaksi di pasar saham mengalami penurunan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) menurun 22,53 persen per Juni 2020. Kondisi tersebut bisa saja semakin memburuk jika gelombang kedua COVID-19 terjadi.
Kendati demikian, langkah pelonggaran PSBB atau new normal yang memungkinkan perekonomian kembali berjalan, dinilai cukup membawa angin segar ke dunia investasi.
Berikut rangkuman mengenai kondisi pasar saham di tengah pandemi:
BEI Catat Transaksi Harian Turun Jadi Rp 7,7 Triliun per 12 Juni 2020
Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, mengatakan indikator rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) BEI berada di Rp 7,7 triliun per 12 Juni 2020. Padahal, pada akhir tahun 2019 NRTH masih berada di Rp 9,11 triliun.
Hasan juga tak menampik pandemi corona telah memukul berbagai sektor saham. Utamanya di bidang properti dan real estate (-34,3 persen) hingga pertanian (-33,49 persen) yang mencatatkan penurunan tertinggi.
Dampak Gelombang Kedua COVID-19 terhadap Pasar Saham
Terjadinya gelombang kedua kasus COVID-19 dikhawatirkan bakal membuat pasar saham kembali terperosok. Padahal saat ini pasar saham baru saja membaik lantaran sentimen positif seiring dilonggarkannya PSBB.
Direktur Investasi Schroders Indonesia, Irwanti, menyatakan kondisi tersebut juga bakal mempengaruhi pasar saham. Namun, dia menilai dampaknya tidak akan sebesar kali pertama pandemi merebak.
Pendapat sedikit berbeda disampaikan oleh Presiden Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Lilis Setiadi. Ia meyakini gelombang kedua COVID-19 berpotensi membuat ekonomi global melemah, terutama jika lockdown kembali diterapkan.
"Hal tersebut dapat menghalangi pemulihan ekonomi. Tentunya ini akan berdampak ke pasar saham ke depannya," ujar Lilis, Rabu (17/6).
Rekomendasi Investasi yang Tepat saat New Normal
Head of Wealth Management and Premier Banking Bank Commonwealth, Ivan Jaya, mengatakan masa transisi alias new normal ini merupakan momentum yang tepat bagi para investor untuk kembali berinvestasi.
"Apabila profil risikonya tidak berani terlalu agresif, kita agak sedikit menyarankan lebih besar di bond sekitar 45 persen. Karena kita melihat ada potensi kenaikan, terutama didorong oleh pemotongan suku bunga," ujarnya memberikan saran investasi.
Adapun alokasi lainnya, ia menganjurkan sebesar 25 persen untuk equity atau ekuitas. Sisanya sebanyak 35 persen bisa dialokasikan ke pasar uang, seperti reksa dana pasar uang atau deposito.
Sementara untuk nasabah dengan kategori agresif, dia menyarankan agar mengutamakan berinvestasi di pasar saham. Ia menganjurkan investor mengalokasikan sebesar 60 persen di pasar saham, kemudian bond 25 persen, serta money market 15 persen.
Forex menjadi opsi produk investasi lainnya karena tidak mengalami fluktuasi yang signifikan. Sedangkan investasi di bidang properti, menurutnya, bakal mengalami ketidakpastian dalam satu tahun ke depan.
