Kemendag Optimalkan Sistem Resi Gudang untuk Kopi hingga Porang
·waktu baca 2 menit

Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan tetap mengoptimalkan sistem resi gudang (SRG) di tahun ini. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, sampai dengan tahun 2020 yang lalu tercatat sudah ada sekitar 123 gudang di daerah yang masuk dalam program SRG.
SRG sendiri berfungsi untuk menjadi gudang simpan tunda beli produk pertanian dan perkebunan. Dengan begitu, pengelolaan pasokan dan harga bisa dilakukan dengan baik.
“Saat ini ada sekitar 20 komoditas yang bisa dikelola melalui SRG, termasuk kopi dan porang yang saat ini menjadi salah satu primadona komoditas ekspor,” ujar Jerry dalam keterangannya, Kamis (29/7).
Dia melanjutkan, sistem resi gudang itu akan terus diintegrasikan dan disinergikan dengan kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kemendes PDT dan Kemenkop UKM. Komunikasi untuk itu sudah dimulai dan saat ini sedang digodok berbagai kemungkinan implementasi.
Selain mengembangkan sistem resi gudang, Kemendag juga menjadikan desa sebagai fokus dalam pemulihan ekonomi dan perdagangan sebagai bagian dari pemulihan pasca COVID-19. Ada sejumlah produk desa yang diekspor perdana, seperti produk pertanian dan perkebunan yakni kopi, beras organik, pupuk organik hingga essential oil dengan negara tujuan Eropa, Amerika Selatan, Asia dan Timur Tengah.
Kemendag juga mendukung pemasaran produk-produk desa, koperasi dan UMKM melalui berbagai upaya. Menurutnya, berbagai upaya itu dilakukan melalui program fasilitasi, pembinaan teknis hingga pembukaan akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan dan diplomasi perdagangan internasional.
“Desa adalah salah satu jantung perekonomian Indonesia, termasuk dalam menghasilkan produk-produk ekspor. Karena itu Kementerian Perdagangan menggandeng dan mendukung berbagai pihak yang fokus membangun produksi desa dengan memberikan akses logistik dan perdagangan," tambahnya.
