Kementerian BUMN Beberkan Strategi Holding Ultra Mikro: Jangkau Kredit UMKM
ยทwaktu baca 2 menit

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo membeberkan arah strategi BUMN sektor keuangan ke depan, terutama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurut Kartika, strategi ini disusun menyesuaikan terbentuknya Holding Ultra Mikro. Holding ini nantinya berisi Pegadaian, PNM, dengan BRI sebagai induknya.
Rencana ini telah dimulai dengan telah disetujuinya aksi korporasi rights issue BRI, di mana ini menjadi langkah awal terbentuknya Holding Ultra Mikro. Aksi korporasi ini dilakukan lewat mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).
Dalam PMHMETD ini, Pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya dalam Pegadaian dan PNM kepada BRI atau Inbreng. Setelah transaksi, BRI akan memiliki 99,99 persen saham Pegadaian dan PNM.
"Spesialisasi dari 4 bank BUMN sudah sangat tegas, di mana BRI fokus UMKM, Mandiri di korporasi, BNI di internasional, dan BTN di KPR. Kita memahami juga proses bersama di mana dalam waktu dekat akan ada right issue di BRI, Pegadaian dan PNM akan masuk menjadi ekosistem usaha mikro di bawah BRI," jelas Kartika dalam konferensi virtual Himbara, Kamis (5/8).
Masuknya Pegadaian dan PNM dalam sektor ini, menurutnya, bakal menjadi tambahan kekuatan dan tantangan tersendiri perusahaan pelat merah sektor keuangan. Keberadaan Himbara plus Pegadaian dan PNM ini diharapkan mampu membuat BUMN melebarkan sayap, dari yang hanya menyasar pembiayaan di sektor formal menyentuh sektor informal.
Kartika melanjutkan, dengan masuknya Holding Ultra Mikro, BUMN bakal lebih banyak menjangkau kredit UMKM atau di bawah Rp 10 juta. Ia menyebut bahwa saat ini ada sekitar 60 juta orang yang belum menyentuh pembiayaan tingkat formal.
"Itu bisa kita masukkan dalam 5 tahun ke depan 30 juta ke sektor formal," pungkasnya.
Di samping itu, perbankan pelat merah juga ingin menyasar sektor ultra mikro yang saat ini notabene dilayani oleh non-bank dan informal. Dengan demikian, nasabah Himbara akan lebih beragam, dengan jenis kredit yang juga lebih beragam pula.
Kementerian BUMN juga berharap BNI misalnya, bisa fokus mendorong UMKM go global dengan melakukan pembinaan dalam meningkatkan produk ekspor. Sementara BTN sendiri, memiliki tugas khusus yakni menggenjot akses perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Selain itu, kehadiran Bank Syariah Indonesia juga diharapkan menjadi sumber kekuatan lain di sektor jasa keuangan. Perbankan yang berfokus ke pasar syariah ini ditarget punya peran besar dalam meningkatkan volume dan market share ekonomi syariah Indonesia.
"Kita harapkan peranan BUMN jasa keuangan semakin mendorong katalis pertumbuhan ekonomi di berbagai segmen. Dan juta di ultra mikro serta ekspor oriented," tuturnya.
