Kumparan Logo

Kenapa Pengangguran di Indonesia Paling Banyak Lulusan SMK?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ratusan pencari kerja mengantre masuk ke area Jakarta Job Fair yang digagas oleh Suku Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Energi Jakarta Selatan di Pasaraya Blok M pada Rabu (27/7). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ratusan pencari kerja mengantre masuk ke area Jakarta Job Fair yang digagas oleh Suku Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Energi Jakarta Selatan di Pasaraya Blok M pada Rabu (27/7). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 7,99 juta orang masih menganggur di Indonesia, atau sekitar 5,45 persen pada Februari 2023 secara tahunan (year on year/yoy).

Pengangguran dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 9,60 persen.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno, mengatakan lulusan SMK di Indonesia masih perlu mengikuti program magang agar memiliki kompetensi yang bisa memenuhi kebutuhan industri.

"Lulusan SMK memang masih pelru dimagangkan sesuai kebutuhan spesifik industri masing-masing," kata Benny kepada kumparan, Sabtu (6/5).

Idealnya, kata Benny, setiap industri memiliki perencanaan tenaga kerja dan lembaga pendidikan menyesuaikan kebutuhan tersebut, bukan kebalikannya.

Ilustrasi Job Fair. Foto: Yermia Riezky Santiago 52/Shutterstock

"Sehingga lembaga pendidikan harus menyesuaikan, pendidikan by demand, bukan pendidikan by supply," tegasnya.

Sebenarnya, pemerintah memiliki program insentif super tax deduction kegiatan vokasi. Tujuan pemberian insentif untuk kegiatan vokasi ini adalah sebagai salah satu jalan tengah yang diupayakan pemerintah untuk membentuk tenaga kerja yang kompeten dan juga sesuai dengan kebutuhan industri.

Melalui program itu, pemerintah bisa memberi insentif super tax deduction sampai dengan maksimal 200 persen bagi pelaku usaha dan pelaku industri yang melakukan kegiatan vokasi.

Dengan fakta bahwa lulusan SMK menjadi yang paling banyak nganggur di negeri ini, Benny menilai program tersebut belum optimal karena tidak banyak perusahaan yang menerapkannya.

"Diseminasi kurang dilakukan sehingga masih banyak pengusaha yang tidak mengetahui dan melakukan," ujarnya.