Kinerja Hulu Migas Pertamina Masih di Bawah Target, Apa Penyebabnya?

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), mencatat kinerja hulu minyak dan gas PT Pertamina (Persero) kurang memuaskan. Angkanya anjlok dari target yang dipatok dalam APBN 2019.
Berdasarkan data SKK Migas, dari 10 besar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) besar penghasil minyak mentah di dalam negeri, 6 di antaranya mengalami penurunan lifting. Dari 6 KKKS itu, 5 di antaranya merupakan anak usaha Pertamina di sektor hulu migas.
Pertama, PT Pertamina EP yang realisasi lifting minyaknya hingga semester I 2019 baru 75.293 barel per hari (bph) atau 89 persen dari target APBN 2019 sebesar 85.000 bph. Demikian juga lifting gas, Pertamina EP baru mencapai 768 MMscfd atau 95 persen dari target.
Kedua, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang realisasi lifting minyaknya hingga semester I 2019 baru mencapai 34.680 barel per hari (bph) atau 69 persen dari target APBN 2019 sebesar 50.400 bph. Lifting gas PHM juga jauh dari target, yakni 662 MMscfd dari target 1.100 MMscfd alias cuma tercapai 60 persen.
Ketiga, PHE OSES yang realisasinya hingga semester I 2019 baru mencapai 27.841 barel per hari (bph) atau 87 persen dari target APBN 2019 sebesar 32.000 bph.
Keempat, Pertamina Hulu Energi ONWJ yang realisasi lifting minyaknya hingga semester I 2019 baru mencapai 28.405 barel per hari (bph) atau 86 persen dari target APBN 2019 sebesar 33.090 bph. Untuk lifting gas, PHE ONWJ hanya mencapai 83 persen dari target, yakni 83 MMscfd.
Kelima, Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) yang realisasi lifting minyaknya hingga semester I 2019 baru mencapai 10.663 barel per hari (bph) atau 95 persen dari target APBN 2019 sebesar 11.248 bph. Lifting gas PHKT pun gagal memenuhi target, yakni sebesar 45 MMscfd dari target 51 MMscfd.
Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu, menjelaskan alasan realisasi kerja hulu di semester I 2019 belum mencapai target. Salah satunya karena ada keterlambatan pengiriman rig untuk pengeboran.
Menurut dia, dari beberapa tender yang dilakukan untuk mencari rig, ada yang tidak berhasil. Tapi perusahaan berusaha mencari penggantinya sambil mengoreksi proses tender yang ada.
"Terutama di PHE (Pertamina Hulu Energi ONWJ), lalu di PHI (Pertamina Hulu Indonesia) ada keterlambatan tapi sudah dapat rig 1-2 bulan. Tapi so far kita catch up," katanya di The 43rb IPA Convention and Exhibition 2019 JCC, Jakarta, Kamis (5/9).
Keterlambatan rig di PHE ONWJ, kata Dharmawan, terjadi tidak berkaitan dengan insiden kebocoran minyak mentah di Lapangan YY, Karawang, Jawa Barat. Selain itu, di Blok Sanga-sanga juga terjadi keterlambatan pengadaan rig.
"Jadi saat ini bagaimana kita akselerasi pengadaan secara terintegrasi supaya 2020 enggak terlambat lagi. Sebetulnya prospeknya sudah siap tapi enggak bisa dibor karena rig-nya belum datang," lanjutnya.
Untuk mengejar target produksi dan lifting hingga akhir tahun, perusahaan menambah investasi menjadi sekitar USD 3 miliar dari sebelumnya USD 2,6 miliar di sektor hulu.
Dengan penambahan ini, berarti total investasi perusahaan sepanjang tahun bertambah dari sebelumnya USD 4,2 miliar. Biaya tambahan akan digunakan untuk menambah pengeboran sumur yang sebelumnya dilakukan tahun depan, dimajukan menjadi tahun ini.
Pada semester 1 2019, Pertamina melalui dua anak usaha hulu telah mengebor 5 sumur eksplorasi dari 10 sumur eksplorasi yang dibor oleh seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di Indonesia.
Sedangkan untuk pengeboran sumur pengembangan, Pertamina telah menyelesaikan 118 sumur dari 158 sumur pengembangan yang dibor seluruh KKKS di Indonesia. "Iya, kita harus kejar untuk target akhir tahun ini," jelasnya.
