kumparan
8 Maret 2019 13:37

KKP Mau Hasilkan 100 Varian Ikan Hias Baru Lewat Rekayasa Genetika

Ikan hias di Pasar Ikan Jatinegara Foto: Abdul Latif/kumparan
Potensi pengembangan ikan hias di Indonesia sangat besar. Hal ini terbukti dari jumlah spesies ikan hias yang ada di Indonesia sekitar 4.300 jenis.
ADVERTISEMENT
Namun, Badan Riset dan Sumber Data Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih baru mengembangkan dan memperdagangkan sekitar 50 spesies sejak tahun 2014.
Di tahun 2019, Kepala BRSDM KKP, Sjarief Widjaja mengatakan akan mencoba menghasilkan 100 spesies ikan hias baru. Metodenya dengan menggunakan rekayasa genetika.
“Paling tidak kita bisa tampilkan ke publik soal komoditas baru ini. Tugas yang berat memang untuk kita. Namun, kita akan mulai dengan komitmen sejumlah pihak,” katanya saat ditemui di Balai Riset Budidaya Ikan Hias KKP, Depok, Jawa Barat, Jumat (8/3).
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembangkan 100 spesies baru ikan hias tahun ini adalah dengan menjalin sejumlah kerja sama. Secara khusus, hari ini BRSDM KKP telah membuka secara resmi laboratorium uji di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) di Depok.
Pemotongan pita secara simbolis meresmikan Laboratorium Uji Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) KKP di Depok. Foto: Elsa Olivia Karina L Toruan/kumparan
ADVERTISEMENT
“Laboratorium uji ini diresmikan untuk menguji genetika, kualitas air, dan biologi. Dengan kehadiran laboratorium genetika inj kita bisa lihat analisis dan genetika dari ikan, sehingga saat kita menemukan satu spesies baru kita tahu cara mengembangkannya,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga terus mendorong sejumlah kerja sama dengan berbagai institusi. Beberapa diantaranya adalah kerja sama dengan PT Biomagg Sinergi Internasional untuk pengembangan pakan ikan alternatif yaitu magot.
“Kami juga lakukan kerja sama dengan Politeknik Negeri Semarang untuk Pengembangan hasil riset smart barcoding untuk tanaman hias air. Terakhir, kerja sama dengan Waduk Cirata untuk pemanfaatan hasil riset dengan aplikasi Smart KJA (keramba jaring apung),” lanjutnya.
Sjarief berharap, dengan adanya kerja sama untuk melakukan pengembangan dan riset di sektor perikanan hias, masyarakat bisa turut dilibatkan. Caranya adalah dengan mengembangkan konsep inti dan plasma sektor budi daya ikan hias.
ADVERTISEMENT
Sebab, selama ini, Sjarief menyebut masyarakat masih hanya menjadikan budi daya ikan hias sebagai kegiatan hobi. Padahal, potensi ikan hias yang besar bisa membuat budidaya ikan hias justru jadi pekerjaan baru di masyarakat.
“Inti atau bibit unggul nanti dikembangkan oleh balai riset, sedangkan plasmanya kita akan berikan ke masyarakat. Dengan begitu, kita akan buat masyarakat juga turut mendukung produksi ikan hias,” tuturnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan