Komoditas Pertanian Jatim Tembus Pasar Ekspor Asia dan Eropa

Jawa Timur mengekspor komoditas pertanian olahan antara lain umbi porang, singkong, dan kopi ke beberapa negara di Eropa dan Asia. Total nilai ekspor dari produk komoditas pertanian olahan tersebut mencapai Rp 2,98 miliar.
Rincian produk pertanian olahan yang diekspor antara lain 23,52 ton singkong beku senilai Rp 320 juta ke Inggris, 15,12 ton porang chips senilai Rp 365 juta ke China, 302,4 ton minyak goreng beku (shortening) senilai Rp 2 miliar, 5,17 ton kopi olahan senilai Rp 229 juta ke Arab Saudi, dan 200 kilogram bakso senilai Rp 64 juta tujuan Hong Kong.
Di sela acara pelepasan ekspor itu, Selasa (16/7), Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil, mengatakan komoditas ekspor ini sudah mengalami proses pengolahan sehingga memiliki daya simpan lebih lama. Selain itu, harga jualnya juga lebih tinggi.
"Kami mendorong para eksportir tidak lagi mengekspor komoditas mentah ke luar negeri. Olah dahulu minimal menjadi barang setengah jadi agar komoditas pertanian tersebut memiliki nilai tambah, " kata Jamil di kantor Karantina Pertanian Surabaya, di Sidoarjo, Jawa Timur.
Menurut Jamil, Jawa Timur memiliki komoditas pertanian olahan bernilai tinggi yang diminati luar negeri. Salah satunya olahan umbi porang dari Nganjuk dan Ponorogo. Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung.
Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air dan bisa digunakan sebagai aditif makanan seperti emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan nutrigel, sosis, lem ramah lingkungan, dan pembuatan komponen pesawat terbang.
Sekretaris perusahaan pengekspor umbi porang CV Jia Li, Stephanie Devina Tjendra, mengaku kewalahan dengan permintaan ekspor porang. Sebab, ketersediaan porang belum mencukupi lantaran produksinya bergantung pada musim hujan.
Stephanie menyebut, saat musim hujan ekspor porang dapat dilakukan hingga 5 kontainer dengan total 26 ton porang. Sementara saat ini hanya bisa melakukan ekspor porang maksimal 2 kontainer.
"Saat ini masih banyak permintaan dari luar tapi kita masih belum bisa menyanggupi. Porang ini ada musimnya, jadi kalau musim gini enggak muncul. Kita enggak bisa cabut. Musim hujan baru penanaman lagi, baru dia muncul," katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dari data sistem otomasi karantina, data ekspor porang chips dua tahun terakhir mengalami peningkatan.
Tahun 2017 ada 4,3 ton ekspor porang chip senilai Rp 61 miliar. Di tahun 2018 ada 5,5 ton senilai Rp 77 miliar. Sedangkan, pada semester pertama tahun 2019 sudah ekspor porang chips sudah mencapai 3,7 ton dengan nilai Rp 51 miliar. Nilai ini melebihi nilai ekspor di semester pertama 2018 yang mencapai Rp 40 miliar.
