Kumparan Logo

Konflik Israel-Palestina dan Imbasnya ke Ekonomi Indonesia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Palestina yang melarikan diri dari Gaza utara bergerak ke selatan, setelah pasukan Israel mendekat ke daerah kantong tersebut, di Jalur Gaza tengah, Jumat (10/11/2023). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina yang melarikan diri dari Gaza utara bergerak ke selatan, setelah pasukan Israel mendekat ke daerah kantong tersebut, di Jalur Gaza tengah, Jumat (10/11/2023). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS

Sudah lebih dari sebulan Israel menyerang Palestina. Perang tersebut memicu warganet untuk mengikuti aksi boikot terhadap perusahaan-perusahaan yang dianggap mendukung Israel.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey, mengatakan aksi Boikot, divestasi, dan Sanksi (BDS) produk pendukung Israel bisa mempengaruhi penjualan hingga 3-4 persen. Hal tersebut dinilai dampaknya tidak terlalu signifikan.

Ia mengatakan, jumlah tersebut merupakan hasil dari aksi boikot yang masif digaungkan selama sepekan terakhir. “Data itu tidak cepat, karena kita harus mengumpulkan data yang di toko dan yang diinventari, jadi dari waktu hampir satu minggu ini,” kata Roy, Rabu (15/11).

Roy mencermati ritel-ritel yang berada di daerah merasakan dampak paling besar akibat aksi boikot. Ia meminta pemerintah untuk memberikan solusi agar aksi boikot ini tidak berlarut-larut dan berkepanjangan dan merugikan banyak pihak, termasuk terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

BPS: RI Masih Impor Pesawat dari Israel, Nilainya Tembus Rp 78 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan Indonesia masih melakukan impor barang dari Israel yakni mesin dan pesawat mekanik dengan kode HS 84.

"Komoditas utama impor asal Israel ini adalah mesin dan pesawat mekanik atau HS 84," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Rabu (15/11).

Massa mengikuti aksi akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (5/11/2023). Foto: Bayu Pratama S/Antara Foto

Dalam bahan paparannya, tercatat nilai impor mesin dan pesawat mekanik tembus USD 5,03 juta atau setara dengan Rp 78 miliar (kurs Rp 15.541).

Tak hanya itu, Indonesia juga masih impor perkakas atau perangkat potong HS 82 dari Israel. Nilainya tembus USD 3,86 juta atau Rp 60 miliar.

Selain melakukan impor barang, RI juga masih melakukan ekspor untuk beberapa komoditas ke Israel. Salah satunya lemak dan minyak hewani nabati.

"Komoditas utama yang diekspor ke Israel ini adalah lemak dan minyak hewan nabati yaitu HS 15. Kemudian ada alas kaki HS 64, dan juga mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya HS 85," ungkap Pudji.

BPS memastikan perang antara Israel dan Palestina tidak akan mengganggu kinerja perdagangan internasional Indonesia. Pasalnya, kontribusi ekspor dan impor kedua negara tersebut terhadap total ekspor impor Indonesia masih kecil.

"Kecil sekali, sampai dengan empat digit desimal juga belum bisa menunjukkan besarannya," tutur Pudji.

Selama Januari-Oktober 2023, kontribusi ekspor ke Palestina hanya 0,0011 persen dari total ekspor Indonesia. Sementara kontribusi impor dari Palestina secara kumulatif Januari-Oktober 2023 sebesar 0,0000 persen.

instagram embed