Krakatau Steel Masih Rugi karena RI Banjir Baja Impor

2 Juli 2019 10:57
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Bongkar muat baja Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Bongkar muat baja Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
ADVERTISEMENT
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) pesimistis dapat meraup keuntungan pada tahun ini. Adapun pada kuartal I 2019 lalu, Krakatau Steel mencatatkan kerugian mencapai USD 62,32 juta atau Rp 878,74 miliar.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim mengungkapkan, pada tahun lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2019. Beleid itu mempermudah besi dan baja lebih mudah masuk Indonesia.
"Semester I 2019 kan masih terdampak izin impor (Permendag Nomor 22/2018). Jadi izin-izin impor itu masih mempengaruhi (kinerja keuangan perusahaan)," beber Silmy dalam wawancara khusus dengan kumparan di kantornya, Jakarta, Senin (1/7).
Dia menjelaskan sebenarnya seusai beleid itu terbit dan muncul kritikan dari berbagai pihak, Mendag merevisi aturan itu dengan menerbitkan Permendag Nomor 110/2018. ‎ Aturan tersebut berlaku efektif mulai Januari 2019.
Meski beleid itu direvisi, izin impor yang sudah terlanjur diterbitkan Kemendag tetap berjalan. Sebab izin yang diberikan Kemendag berjalan 6-12 bulan. Oleh karenanya selama setahun ke depan, pihaknya masih memiliki tantangan.
ADVERTISEMENT
"Izin impor itu masa berlakunya ada yang 6 bulan, ada yang 1 tahun‎. Permendag 110 baru berlaku efektif Januari 2019. Kalau ada izin impor yang diterbitkan Desember 2018, artinya itu berlaku sampai Desember 2019. Bisa saja setahun ini kita mendapatkan tekanan," ucapnya.
Direktur Utama PT. Krakatau Steel, Silmy Karim ketika mengunjungi kantor kumparan. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama PT. Krakatau Steel, Silmy Karim ketika mengunjungi kantor kumparan. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
‎Selain itu, menurut Silmy, hal yang membuat penjualan Krakatau Steel tidak begitu baik pada semester I 2019 yakni dikarenakan momen Pemilihan Presiden (Pilpres). Sebab saat Pilpres, pengusahaan memilih untuk menunda belanja.
"Kemudian faktor pemilu itu juga sangat mempengaruhi. Karena kecenderungannya kan orang menunda untuk belanja, menunda untuk melakukan inventory. Sehingga memang semester I 2019 tidak begitu bagus," tegas Silmy.
Saat disinggung mengenai perseroan dapat mencetak untung pada tahun ini, dia tak bisa memastikan. Sebab Krakatau Steel masih memiliki utang yang merupakan warisan manajemen sebelumnya. Namun untuk 2020, dia optimistis laba bisa dicetak.
ADVERTISEMENT
"Saya belum bisa berandai-andai (untuk 2019). Kalau 2020 saya lebih punya waktu untuk menyiapkan. 2020 saya mengharapkan sudah untung," katanya.
Silmy menambahkan pada tahun ini, kapasitas produksi‎ perusahaan akan bertambah 1,5 juta ton per tahun saat pabrik baja lembaran panas atau Hot Strip Mill (HSM) II beroperasi di akhir September 2019. Dengan adanya tambahan kapasitas ini, pihaknya optimistis market share perusahaan akan bertambah pada tahun depan.
"Baja Krakatau Steel itu market share-nya sekitar 40-50 persen. Kalau dengan adanya HSM 2, market share kita bisa 60 persen. Saya melihat konsumsi baja nasional itu masih terbuka ruang yang lebar untuk bertumbuh," tutup Silmy.