Kumparan Logo

Kreatif, Suwadji Sulap Bambu Jadi Pernak-pernik Hiasan Bernilai Jutaan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen bambu terbesar di dunia. Namun sayangnya pemanfaatan bambu di Dalam Negeri masih cukup terbatas.

Peluang ini coba diambil oleh Suwadji. Pria asal Gunung Kidul ini berhasil menyulap bambu menjadi pernak-pernik bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan label usahanya, FDA Handycraft. Bagaimana ceritanya?

Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

"Ada banyak perubahan. Saya produksi kerajinan bambu sejak 1988. Berubah sesuai selera zaman," kata Suwadji saat ditemui kumparan (kumparan.com) di ajang pameran Inacraft 2017 yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Jumat (28/4).

Untuk memproduksi berbagai pernak-pernik dari bambu, Suwadji mempekerjakan karyawan yang kebanyakan berasal dari kampung halamannya, Gunung Kidul. Jumlahnya ada 50 karyawan. "Di desa kami kan lingkungannya home industry bambu. Biasanya minta tolong warga se-desa saja," imbuhnya.

Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

Sejak usaha ini dibuka, dia sudah berhasil menciptakan pernak-pernik bambu misalnya nampan, tempat buah, piring, vas bunga dan lain-lain. Berbagai macam produk kerajinan bambu yang dia buat lantas diekspor ke berbagai negara, sebut saja Amerika Serikat, Kanada, Spanyol hingga Australia.

"Kalau kita awalnya murni diekspor ya sampai tahun 2002. Terus kita cuma layani trading-trading. Dari trading ngasih gambar sampel, kita bikin, lalu diekspor ," katanya.

Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

Namun pasar ekspor semakin sepi di akhir tahun 2001. Untuk itu dia banting setir dan mulai memprioritaskan pasar domestik untuk menjual produknya.

"Mulai 2002 karena ekspor agak menurun kita diajak pameran dinas ternyata lumayan banyak," ucapnya.

Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

Suwadji akhirnya mulai meraba besarnya potensi pasar Indonesia. Dia juga mulai berinovasi dengan memberikan corak lebih beda dibandingkan sebelumnya. Tidak hanya itu, Suwadji juga mulai rutin mengikuti event-event yang digelar di dalam negeri, salah satunya Inacraft 2017.

"Dari biasanya ingin mengangkat ekonomi pengrajin, terus para UKM diajak ke pameran contoh Inacraft ini," sebutnya.

Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kerajinan bambu (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

Akhirnya kini Suwadji giat mengikuti pameran-pameran nasional berkelas internasional. Ditanya soal omzet saat ini, Suwadji menjawab rata-rata omzet yang dia dapat Rp 50 juta per bulan.

"Saya yakin inovasi bisa menyelamatkan bisnis ini walaupun tidak kembali seperti dulu. Kuncinya ikuti selera pasar sekarang. Pemesan itu biasanya suka yang unik-unik," tutupnya.