kumparan Gelar 'Anak Bangsa Curhat' di UB, Diskusi soal Cari Cuan Sambil Kuliah
ยทwaktu baca 5 menit

kumparan menggelar acara Anak Bangsa Curhat (ABC) di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, pada Kamis (26/10). Acara ini sempat diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
Kali ini, tema yang diangkat di Anak Bangsa Curhat adalah 'Kreativitas Mahasiswa: Cari Cuan Sambil Kuliah'. Acara ini merupakan edisi ketiga dari serangkaian program kumparan Pemilupedia 2024.
Acara tersebut dimulai pukul 09.30 WIB yang bertempat di Gedung Widyaloka UB. Sejak pagi, sekitar 200 mahasiswa UB terlihat mengantre untuk masuk ke dalam gedung.
Sebelumnya, para mahasiswa diminta untuk menulis curhatan di sebuah kertas yang disediakan, kemudian dimasukkan ke dalam bilik suara.
Acara ini dibuka Dekan FISIP UB, Anang Sujoko. Dalam sambutannya, dia mengatakan bahwa 2024 merupakan tahun penentu untuk memilih presiden Indonesia yang baru.
Anang mengajak para mahasiswa untuk lebih peka dan kritis terhadap politik tahun ini. Sebab, para mahasiswa juga sebagai penentu pemimpin bangsa ke depannya. Untuk itu, ia mengajak para mahasiswa untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya terkait sosok capres-cawapres.
"Sekali lagi eksploitasi narasumber untuk mendapatkan hal yang terbaik dalam hidup anda ke depan," ujar Anang kepada para mahasiswa.
Acara kemudian dilanjut sesi diskusi, yang menghadirkan empat narasumber, yakni Adhiva Amalia selaku content creator dan enterpreneur, Jesica Maranatha Virgin selaku Wakil Ketua BEM FISIP UB, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP UB Bambang Prasetyo, dan Managing Director Talenthub Kemnaker Ahmad Luthfi.
Keempat narasumber itu pun secara bergantian berbagi cerita dan pengalaman terkait mencari cuan atau berwirausaha.
Cara TikTokers Adhiva Cari Cuan Sambil Kuliah
Kesempatan pertama diberikan oleh Adhiva. Ia bercerita bagaimana dirinya sebagai Gen-Z mencari peluang usaha di sela kegiatan perkuliahannya.
Sebelum menjadi content creator, Adhiva sempat berjualan jilbab hingga bunga di kampusnya. Saat menjalankan awal bisnisnya, ia menerapkan sistem pre-order melalui media sosialnya.
"Jualan kerudung dari 2018, semester 2 sampai sekarang. Dan sekarang punya bisnis lain. Waktu itu tanpa berpikir gimana-gimana. Awalnya saya pre-order," kata Adhiva.
"Sebenarnya utama saya berusaha karena waktu itu uang sakunya kurang. Jadi saya kuliahnya di UIN Surabaya dan tinggalnya di Sidoarjo," tambah dia.
Dari bisnisnya itu, Adhiva berhasil mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan tak meminta uang saku ke orang tua.
"Jadi kalau mengajukan lamaran tidak meminta orang tua jadi punya uang sendiri, saku sendiri, kalau akan melamar pekerjaan," terangnya.
Namun, perjalanan bisnisnya juga mengalami hambatan. Ia sempat tekor Rp 8-10 juta saat mengembangkan bisnisnya pada 2016.
"Tahun 2016-2017, saya pernah boncos Rp 8-10 juta untuk endorsement. Saat itu sedang ramai-ramainya endorsement. Akhirnya saya berdoa, berilah hamba ladang promosi yang gratis. Bikinlah konten di TikTok, akhirnya naik. Dari 3 tahun yang saya pelajari di sosial media adalah kita ketahui apa identitas kita atau personal branding," terangnya.
Sementara, Wakil Ketua BEM FISIP UB Jesica Maranatha Virgin berbagi pengalamannya sebagai seorang MC dan pengisi acara di berbagai kegiatan. Dari kegiatan itu, ia pun berhasil mendapatkan uang saku tambahan.
Gadis yang akrab disapa Jeje itu mengatakan, memulai usaha atau mencari cuan didasari dengan apa yang disukai dahulu atau disebut passion. Menurutnya, passion itu dicari, bukan hanya anugerah saja.
"Kalau ada jenuhnya, ada jatuh bangunnya, kita merasa enjoy, senang, karena kita suka di bidang itu," ucap Jeje.
Jeje mengungkapkan, salah satu cara untuk menemukan passion dengan bertanya kepada orang terdekat, seperti orang tua atau teman.
"Semua manusia di dunia ini tidak sama. Bagaimana cara kita tahu passion kita dengan cara bertanya ke orang terdekat kira-kira saya sukanya seperti apa. 'Aku ini tipe orang yang gimana ya Pa, Ma?' nah itu aku juga tanya ke teman aku. Kayaknya saya suka ngomong deh. Ketika mereka ngasih respon positif, brarti kita bisa," ungkapnya.
UB dan Kemnaker Fasilitasi Mahasiswa Berwirausaha
Di sisi lain, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP UB Bambang Prasetyo menyampaikan FISIP UB memfasilitasi para mahasiswa untuk berwirausaha dengan mengikuti kompetisi.
"Kita ada program kewirausahaan. Itu kompetisi-kompetisi yang sifatnya yang menang akan mendapatkan biaya Rp 6-10 juta per project," jelas Bambang.
Bambang menjelaskan, UB memiliki mata kuliah kewirausahaan yang berisi materi terkait wirausaha hingga pendidikan bisnis.
"Ada mata kuliah tertentu di kampus kita yang memberikan support untuk adik-adik yang berwirausaha. Ada mata kuliah kewirausahaan bisa dikembangkan," jelasnya.
Hal senada juga disampaikan pihak Kemnkaer. Managing Director Talenthub Kemnaker Ahmad Luthfi menerangkan Kemnaker memiliki program pengembangan talenta untuk para pekerja muda mengasah skill-nya.
Selain itu, program Talenthub juga bisa diikuti para mahasiswa. Talenthub terdiri dari program talent class, talent scouting dan memfasilitasi enterpreneurship dengan gratis.
"Talenthub kita menghubungkan antara young enterpreneur undergraduate itu kita hubungkan dengan investor-investor kita," ucap Luthfi.
Dihadapan mahasiswa UB, Luthfi memastikan Talenthub akan mendahulukan para mahasiswa UB yang ingin mengajukan program wirausaha.
Usai diskusi dengan empat narasumber itu, acara dilanjut dengan sesi curhat yang dipandu Mas kumparan. Curhatan para peserta yang ditulis dibacakan satu per satu dengan isi yang beragam.
Seperti curhatan salah satu mahasiswa yang tidak disebutkan namanya. Ia curhat meminta fasilitas lift di FISIP UB untuk ditambah.
"Lift suka penuh di waktu tertentu. Harus menunggu 5 menit di mana itu sangat rugi waktu. Tolong dong liftnya ditambah," pesan mahasiswa itu.
Lantas, hal itu langsung dijawab Wakil Ketua BEM FISIP UB, Jesica Maranatha Virgin. Jeje membeberkan bahwa fasilitas lift di FISIP UB tidak bisa ditambah dikarenakan bangunannya yang tidak memungkinkan untuk ditambah lift.
Namun, Jeje memberikan solusi dengan berangkat kuliah lebih awal sekitar 30 menit sebelum menuju kelas, sehingga tidak terjadi antrean lift.
Acara Anak Bangsa Curhat ditutup dengan penampilan stand up comedy yang disampaikan komika Akhmad Fandi. Materi yang disampaikan berhasil membuat tertawa para mahasiswa yang hadir.
