Larangan Ekspor Sudah Sepekan, Harga Minyak Goreng Masih di Atas Rp 23 Ribu/L
·waktu baca 3 menit

Larangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya mulai berdampak terhadap stok minyak goreng. Berdasarkan pantauan kumparan, Rabu (4/5), pasokan minyak goreng kemasan di minimarket hingga supermarket di Jakarta sangatlah melimpah, namun harga yang ditawarkan masih di atas Rp 23.000 per liter.
Indomaret
kumparan menyambangi salah satu gerai Indomaret yang berada di Jl. Nangka Raya, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Terlihat dengan jelas, seluruh rak terisi penuh oleh minyak goreng kemasan dari berbagai merek.
Untuk minyak goreng Tropical 2 liter kemasan premium dibandrol seharga Rp 52.500, Sovia 2 liter Rp 46.400, Sania 2 liter Rp 46.500, Filma 2 liter Rp 51.100.
Alfamart
Sebagai pembanding, kumparan juga mengunjungi gerai minimarket Alfamart yang terletak tak jauh dari Indomaret, yang juga berada di Jl. Nangka Raya, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Varian merek minyak goreng di Alfamart jauh lebih banyak ketimbang di Indomaret. Bahkan, Alfamart sendiri memiliki produk minyak goreng.
Harga minyak goreng Tropical untuk kemasan 2 liter dijual senilai Rp 49.900, Sania 2 liter Rp 46.500, Fortuna 2 liter 46.300, Alfamart Rp 46.900, Filma Rp 51.500, Sunco Rp 52.300, Rp Sovia 46.000
Robinson Supermarket
kumparan juga menyambangi salah satu supermarket di daerah Pasar Minggu yakni Robinson Supermarket. Ketika sampai di bagian minyak goreng, kumparan disuguhi papan diskon.
Hampir seluruh merek minyak goreng yang dijual di supermarket ini mendapatkan potongan harga yang tidak sedikit jumlahnya.
Untuk minyak goreng Sania kemasan 2 liter harga normal dibandrol Rp 52.500, namun karena sedang diskon harga minyak goreng Sania menjadi Rp 47.500.
Minyak goreng Sunco 2 liter harga normal Rp 52.000, harga promo Rp 48.500. Minyak goreng Rose Brand 2 liter Rp 46.900, minyak goreng Sovia 2 liter Rp 52.000.
Baik di gerai minimarket maupun supermarket, kumparan tidak berhasil menemukan minyak goreng kemasan 1 liter. Seluruh ritel modern tersebut hanya menjual minyak goreng untuk kemasan 2 liter.
Sebelumnya, Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menilai walau secara teoritis dengan bahan baku melimpah dapat menekan harga minyak goreng, namun ada aspek lain sehingga minyak goreng tak bisa langsung turun harganya ketika ada larangan ekspor ini.
“Menurut saya memang kuncinya adalah memastikan aliran distribusi dari penyaluran bahan baku menjadi penting. Di samping itu menurut saya juga perlu dilakukan evaluasi berkala untuk melihat bottleneck dari pelaksanaan kebijakan ini,” kata Yusuf.
Sementara, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah mengatakan bahwa kebijakan ini kurang rasional karena dia melihat pada berbagai dampak negatif yang disebabkan. Oleh sebab itu kebijakan ini menurutnya tidak akan banyak mengubah situasi.
“Kebijakan ini tidak akan mengubah banyak kondisi. Pasokan pasti berlimpah tapi tidak berarti murah. Saya memperkirakan penurunan harga tidak akan sangat tajam. Minyak goreng akan tetap mahal,” ujar Piter.
