Kumparan Logo

Layanan Pesan Antar Tak Serta Merta Membantu Pedagang Kecil saat PPKM Darurat

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas gabungan menegur pedagang kaki lima yang melanggar jam operasional hingga pukul 20.00 WIB saat melakukan patroli di Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (3/7/2021) malam. Foto: Siswowidodo/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Petugas gabungan menegur pedagang kaki lima yang melanggar jam operasional hingga pukul 20.00 WIB saat melakukan patroli di Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (3/7/2021) malam. Foto: Siswowidodo/Antara Foto

Di masa PPKM Darurat ini, sudah banyak pedagang kecil yang terjaring razia karena tetap menerima pembeli makan di tempat serta melanggar pembatasan jam operasional. Salah satu alasan utamanya, mereka sangat bergantung pada pembeli yang datang langsung ke tempat.

Keberadaan layanan pesan antar makanan seperti GoFood dan GrabFood tak serta merta membantu para pedagang warung kecil serta kaki lima.

Salah satu contoh nyatanya adalah Yudha, seorang pedagang martabak manis di Tlogomas, Kota Malang. Ia sudah mendaftarkan dagangannya di GoFood dan GrabFood.

Namun, ada banyak persoalan yang membuatnya tetap merugi saat mobilitas masyarakat dibatasi. Masalah utama yaitu persaingan yang makin ketat antara restoran besar dan pedagang kecil di layanan pesan antar.

“GoFood saya daftar, GrabFood (juga) tapi ya enggak seramai resto yang sudah terkenal,” katanya kepada kumparan, Jumat (16/7).

Menurutnya, kelemahan para pedagang kecil terletak pada modal yang terbatas dibanding restoran besar. Ia mencontohkan untuk biaya iklan atau promo saja, para pedagang kaki lima tidak bisa terus menerus.

“Sudah aku bikin promo terus tapi ya rugi, masa promo terus. Aku kan berdagang cari untung. Kecuali restoran (besar) yang sudah dipegang sendiri sama sales Grab itu aman untuk promo. Dan pasti diserbu terus soalnya kalau restoran besar ada uang marketing sendiri,” tuturnya.

Petugas Satpol PP membubarkan aktivitas pedagang kaki lima di kawasan Bulungan, Jakarta, Senin (21/6/2021). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Ia juga merinci potongan biaya yang diambil kedua layanan pesan antar tersebut untuk satu pesanan. GoFood dan GrabFood mengambil keuntungan Rp 800 ke penjual dan Rp 800 ke pembeli. Belum lagi ada potongan sebesar 35 persen untuk satu kali pesanan.

Artinya, terkadang penjual mendapat untung lebih kecil dibanding potongan dari kedua layanan tersebut.

“Jadi setiap satu transaksi kalau Gojek itu ambil Rp 800 ke restoran lalu ambil Rp 800 ke pemesan dan ambil keuntungan 35 persen. Jadi Rp 1.600 ditambah 35 persen,” jelasnya.

Tetap Jualan Demi Menafkahi Keluarga

PPKM Darurat membuat Yudha menggeser jam operasional usahanya menjadi pukul 15.00-19.00 WIB. Yudha yang harus bertanggung jawab menghidupi istri dan satu anak mengaku harus merumahkan 6 mitranya selama PPKM Darurat.

“Yang aku sesali itu merumahkan pegawai sementara. Nah dan semenjak itu (PPKM Darurat) omzet minus. Soalnya ada beban operasional gaji pegawai, nah ya akhirnya minus. Bahkan sampai Rp 500 ribu per bulan,” imbuhnya.

Petugas Satpol PP membubarkan aktivitas pedagang kaki lima di kawasan Bulungan, Jakarta, Senin (21/6/2021). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Yudha juga menceritakan sedikit pengalamannya saat berdebat dengan petugas Satpol PP yang melakukan sidak ke lapaknya. Ia mengaku ingin menuruti aturan PPKM Darurat untuk tidak berjualan di atas pukul 20.00 WIB, namun dengan syarat para petugas membeli jajanannya.

"Sampean mau beli dagangan saya? Masalahnya pedagang ini untuk beli bahan baku besok, ada aturan tapi tidak solusi,” ujar Yudha menirukan perkataannya saat berdebat.

kumparan post embed

Ia mengaku berdebat sekitar 15 menit, para petugas tak bisa berbuat banyak. Terpaksa ia melanggar aturan PPKM Darurat dengan berjualan sampai 20.30 WIB demi menafkahi keluarganya.

Yudha tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk menghidupi keluarga jika dilarang berjualan sampai malam. “Dari kejadian ini aku nyoba jalan lain, bisnis apa lagi ya?” tuturnya.