Kumparan Logo

Lelang Tambang Eksplorasi Belum Laku, Target Investasi Minerba Stagnan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tambang Nikel. (Foto: Thinkstock/Zetter)
zoom-in-whitePerbesar
Tambang Nikel. (Foto: Thinkstock/Zetter)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun ini tak akan menaikkan target investasi di sektor mineral dan batu bara atau minerba. Pada tahun lalu, target investasi sektor tersebut dipatok USD 6,2 miliar.

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, mengatakan tak naiknya target investasi tahun ini karena banyak tambang yang beroperasi bukan merupakan tambang baru, melainkan tambang-tambang lama yang produksinya sudah berjalan.

“Saya kira karena wilayah baru itu masih belum banyak yang dilelang, jadi untuk eksplorasi baru tidak ada. Tahun ini mirip-mirip saja, belum ada ekplorasi yang besar-besaran,” kata Bambang Gatot dalam paparan kinerjan Minerba 2018 di kantornya, Jakarta, Rabu (9/1).

Pada wilayah tambang yang sudah eksploitasi, kata dia, investasi biasanya hanya berkutat pada penggantian capital expenditure peralatan dan sebagainya. Sementara untuk tambang eksplorasi, Bambang menyebut ada 10 lelang yang belum juga laku.

Konferensi capaian kinerja sektor minerba Kementerian ESDM, Jakarta. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi capaian kinerja sektor minerba Kementerian ESDM, Jakarta. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)

Lelang 10 wilayah tambang itu merupakan bekas Izin Usaha Pertambangan (IUP). Urusan lelang mekanismenya sudah diserahkan ke daerah. Salah satu wilayah tambang lelang yang belum laku adalah tambang Silo di Jember, Jawa Timur, yang sempat diprotes warga sekitar.

“Kalau di Jatim ada Tambang Silo. Ada 4 itu nikel di Sulawesi Tenggara. Yang Antam nunggu Ombudsman evaluasi baru keluar IUP eksplorasi. Kalau lelang selesai, (investasi) bisa lewat dari target,” jelasnya.

Pada 2018, dari target investasi USD 6,2 miliar yang terealisasi mencapai USD 6,8 miliar. Menurut Bambang, realisasi investasi tahun lalu sudah secara rupiah sudah tercapai tapi masih kurang sedikit dalam bentuk dolar AS.

Alasannya karena ada beberapa macam seperti perubahan rencana, penundaan realisasi investasi karena menunggu izin IPPKH dan ada yang penundaan perpanjangan kontrak.