Lion Group Ungkap Penyebab Sering Delay: Cuaca, Desain Bandara, hingga Kalayang
·waktu baca 3 menit

Presiden Direktur Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro menanggapi cecaran Wakil Ketua Komisi V soal Lion termasuk maskapai yang sering delay atau terlambat.
Daniel mengakui saat ini secara nasional ada penurunan persentase on time performance (OTP) untuk penerbangan domestik. Pada periode Januari-April 2025 OTP penerbangan domestik 78,7 persen sementara periode yang sama tahun sebelumnya 79,73 persen.
Dia juga mengeklaim permasalahan OTP ini secara teknikal bisa diminimalisir dengan program RAM Check yang digagas oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Namun menurut dia, ada permasalahan-permasalahan yang belum bisa dipecahkan terkait dengan menurunnya persentase OTP ini, khususnya di Lion Group. Pertama soal navigasi penerbangan, yang menurut dia perlu dievaluasi adalah rute penerbangan ke arah timur.
“Nah ada alternatif sebetulnya pernah kita waktu itu kita bahas membuka rute selatan tapi kita berhadapan dengan TNI AU sehingga semakin jauh jadi semakin tidak efisien. Nah ini menjadi salah satu kontribusinya,” tutur Daniel dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI, Kamis (22/5).
Permasalahan lain yang menurut dia kerap membuat armada Lion Group delay adalah cuaca yang kurang baik. Sebab, dia menegaskan Lion Group mengutamakan keselamatan dan mengimbau pilot untuk mematuhi hal ini.
Tidak hanya itu, dia juga menyebutkan penyebab pesawat Lion Group kerap kali delay adalah permasalahan desain Bandara Soekarno Hatta dengan beberapa terminal di dalamnya. Sementara, Online Travel Agent (OTA) kerap mencampurkan penerbangan yang melibatkan dua terminal berbeda di bandara ini.
“OTA itu mereka menggabungkan, sehingga kadang-kadang pengguna jasa tidak memahami. Contoh dari Medan mau ke Jayapura, dengan Lion Jakarta-Medan, Jakarta-Jayapura pakai Garuda. Lion mendaratnya di Terminal 1A, Garuda berangkat dari Terminal 3, bagaimana menghubungkan 1A dengan 3,” jelasnya.
Bersamaan dengan ini, dia juga mengomentari desain Kereta Layang (Kalayang) di Bandara Seokarno Hatta yang berada di luar area terminal. Menurut dia perlu dilakukan perombakan desain Kalayang agar bisa membuat perjalanan masyarakat lebih efisien.
“Harus diredesain karena posisinya masih di luar dari bangunan terminal, nah kalau kita lihat di bandara manapun juga namanya kereta itu biasanya ada di dalam terminal,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, jika banyak penumpang yang membeli paket perjalanan dari OTA dengan kombinasi seperti ini, maka akan berdampak pada ketepatan waktu pesawat.
“Kalau ada penumpang yang membeli ini dengan jumlah besar ini kontribusi delaynya terjadi nah ini yang menjadi concern kita semua untuk memperbaiki tentunya on-time performance,” jelasnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi V Ridwan Bae menuturkan agar dalam RDP Dirjen Perhubungan Udara (Hubud) Kemenhub Lukman F Laisa, Lion Group yang menjelaskan perihal OTP. Sebab Lion cukup dikenal sebagai maskapai yang sering terlambat.
“Kemudian on-time performance kita minta dari Lion. Lion kan sering terlambat juga,” kata Ridwan dalam kesempatan yang sama.
Berdasarkan paparan Dirjen Hubud, ada empat faktor penyebab keterlambatan untuk penerbangan domestik, pertama teknis operasional, manajemen maskapai, cuaca dan lainnya.
“Beberapa faktor penyebab keterlampatan untuk penerbangan domestik mencakup teknis operasional, manajemen, lainnya namun lebih dominan cuaca,” tutur Lukman dalam kesempatan yang sama.
