Kumparan Logo

LNG Bukan Lagi Transisi Energi, Petronas Agresif Perluas Ekspor ke Dunia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kapal LNG milik Petronas di Petronas LNG Complex, Bintulu, Sarawak, Malaysia. Foto: Dok. Petronas
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kapal LNG milik Petronas di Petronas LNG Complex, Bintulu, Sarawak, Malaysia. Foto: Dok. Petronas

Di tengah tekanan global untuk beralih ke energi bersih, kawasan Asia Tenggara justru mengalami lonjakan permintaan energi. Urbanisasi cepat, pertumbuhan industri, dan naiknya populasi menjadi pemicu utama.

Dalam wawancara khusus kumparan bersama media se-Asia Tenggara, CEO Petronas LNG Ltd Ezran Mahadzir, menegaskan dalam lanskap ini, Petronas menegaskan gas alam cair (LNG) bukan sebagai “jembatan” semata, tetapi sebagai “tujuan” dari transisi energi.

Kata dia, dengan populasi sekitar 700 juta jiwa dan proyeksi peningkatan hingga 760 juta dalam dua dekade ke depan, kawasan ini membutuhkan pasokan energi yang terus mengalir—tanpa gangguan. Sayangnya, energi terbarukan seperti surya dan angin belum mampu menjawab kebutuhan ini sepenuhnya karena sifatnya yang tidak stabil (intermittent).

“Kami tidak percaya LNG hanyalah bahan bakar transisi. Ini adalah destination fuel karena jika Anda menggabungkan LNG dengan energi terbarukan, maka Anda bisa mendapatkan solusi energi yang andal dan bersih,” katanya di sela-sela acara Energy Asia 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (18/6).

CEO Petronas LNG Ltd Ezran Mahadzir. Foto: Petronas

Hingga kini, gas menyumbang sekitar 30 persen dari bauran energi Asia Tenggara. Namun, seiring dengan menurunnya pasokan gas pipa dari ladang domestik di Teluk Thailand, Sumatera, hingga Terengganu, kebutuhan akan LNG sebagai sumber pasokan baru menjadi krusial. Petronas menilai, LNG adalah jawaban yang realistis dan teruji untuk menjaga ketahanan energi regional.

“Fasilitas regasifikasi dibangun di berbagai negara seperti Mataput (Thailand), Thi Vai (Vietnam), dan beberapa FSRU di Filipina. Infrastruktur ini menunjukkan bahwa pasar sedang bersiap menerima lebih banyak LNG,” jelas Ezran.

Petronas kini memiliki portofolio LNG sebesar 40 juta ton per tahun, mayoritas berasal dari kompleks LNG Bintulu di Sarawak yang telah beroperasi lebih dari 40 tahun. Perusahaan juga mengandalkan dua unit FLNG (floating LNG) dan sedang membangun unit ketiga yang lebih dekat ke pantai demi menurunkan jejak karbon. Armada kapal LNG Petronas kini mencapai 32 unit dan telah mengirim lebih dari 16.000 kargo ke lebih dari 50 terminal global.

Dalam strategi jangka panjang, Petronas aktif mengamankan pasokan global. Mereka telah menandatangani kontrak dari proyek LNG Canada (3,3 juta ton), Commonwealth LNG dan Venture Global di AS, serta ADNOC Ruwais LNG yang menggunakan energi nuklir untuk memproduksi LNG yang lebih bersih. Di masa depan, pasokan dari Suriname juga direncanakan masuk dalam portofolio.

“Petronas juga tidak hanya menjual produk, tetapi menyediakan solusi. Kami bahkan bisa melayani pelanggan yang hanya punya kapal kecil, atau yang membutuhkan harga kontrak berbasis tarif listrik, bukan indeks gas konvensional,” tambah Ezran.

Untuk menjamin keberlanjutan, Petronas telah memulai elektrifikasi fasilitasnya dan menargetkan nol flaring rutin. Proyek CCS (carbon capture & storage) seperti Kasawari di lepas pantai Sarawak akan mulai menyuntikkan CO₂ pada 2026. Digitalisasi dan AI juga diterapkan guna menekan kebocoran metana dan emisi CO₂ selama proses pengolahan dan distribusi LNG.

Ilustrasi kapal LNG milik Petronas di Petronas LNG Complex, Bintulu, Sarawak, Malaysia. Foto: Dok. Petronas

Data internal menunjukkan Petronas telah mengirim lebih dari 100 kargo LNG ke Asia Tenggara sejak 2017. Saat ini, perusahaan memiliki 28 pembeli aktif dan 46 kontrak aktif—mulai dari utilitas nasional hingga pembangkit listrik dan pabrik petrokimia. Filosofi yang dibangun Petronas adalah “berteman dulu, kontrak kemudian.” Ezran menyebut, banyak pembeli awalnya hanya mengambil satu kargo, lalu berkembang menjadi kontrak tahunan, bahkan jangka panjang hingga 20 tahun.

Konferensi Energy Asia di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia, Senin (16/6/2025). Foto: Edgar Su/REUTERS

Tak hanya sebagai eksportir LNG, Petronas juga ingin menjadi bagian dari transformasi energi kawasan. Lewat anak usaha Gentari, mereka mengembangkan hidrogen, amonia bersih, biofuel, dan SAF (sustainable aviation fuel). Semua ini menunjukkan bahwa Petronas tidak hanya berpikir soal gas hari ini, tapi juga energi esok hari.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN tahun ini, Petronas mendorong kerja sama lintas negara dalam memperkuat infrastruktur, membuka pasar, dan berbagi teknologi. “Kami ingin menjadi mitra regional yang dapat diandalkan dalam menyediakan energi yang bersih, fleksibel, dan berkelanjutan,” kata Ezran.

Saat banyak negara masih mendebatkan bentuk energi masa depan, Petronas memilih bergerak lebih dulu. Bagi mereka, LNG bukan hanya solusi masa kini, tapi juga jantung dari masa depan energi Asia. Dan Asia Tenggara, dengan segala potensinya, adalah pasar yang harus disuplai dengan energi yang tidak hanya tersedia, tetapi juga bertanggung jawab.

Fasilitas LNG Petronas di Bintulu, Sarawak, Malaysia, Kamis (19/6/2025). Foto: Petronas