Kumparan Logo

Makan di Warteg Cuma Boleh 20 Menit saat PPKM Level 4, Awas Tersedak!

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja menyiapkan lauk pauk di Warteg Subsidi Bahari, Pejaten, Jakarta, Kamis (22/7/2021).  Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyiapkan lauk pauk di Warteg Subsidi Bahari, Pejaten, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Operasional warung makan seperti warteg memang sudah boleh dibuka kembali saat PPKM Level 4. Namun, hal yang menjadi sorotan adalah ada batasan waktu 20 menit saat makan di warteg.

Kondisi tersebut dianggap membahayakan oleh pengusaha warteg karena bisa bikin tersedak. Belum lagi ada risiko kecelakaan kerja karena buru-buru.

Berikut ini selengkapnya mengenai hal tersebut:

Aturan Makan di Warteg dan Warung Makan Kaki Lima saat PPKM Level 4

Operasional warung makan seperti warteg diatur dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri terbaru, yaitu Inmendagri Nomor 24 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4 dan Level 3 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali.

Dalam Inmendagri ini salah satunya diatur pelaksanaan kegiatan makan/minum di tempat umum untuk yang menerapkan PPKM Level 4. Untuk warung makan, pengunjung dibatasi maksimal 3 orang dengan waktu makan maksimal 20 menit.

"Warung makan/warteg, pedagang kaki lima, lapak jajanan dan sejenisnya diizinkan buka dengan protokol kesehatan yang ketat sampai dengan pukul 20.00 waktu setempat dengan maksimal pengunjung makan di tempat 3 (tiga) orang dan waktu makan maksimal 20 (dua puluh) menit. Pengaturan teknis berikutnya diatur oleh Pemerintah Daerah," tulis aturan Inmendagri tersebut.

Adapun untuk restoran/rumah makan, kafe, yang lokasinya berada di dalam gedung tertutup baik di lokasi tersendiri maupun di pusat perbelanjaan seperti mal, hanya menerima take away, tidak menerima makan di tempat.

kumparan post embed

Makan di Tempat 20 Menit saat PPKM Level 4, Warteg: Nanti Tersedak, Repot

Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni menilai kebijakan ini bisa membahayakan pelanggan. Pasalnya dengan pembatasan durasi makan, maka pelanggan akan makan terburu-buru dan berpotensi tersedak.

"Nanti takutnya digrusa-grusu bisa tersedak, repot yang punya warung. Kalau boleh saya berpendapat, ngawur kebijakan ini atau absurd," ujar Mukroni saat dihubungi kumparan, Senin (26/7).

Pembatasan waktu makan juga dinilai bisa membahayakan pekerja warteg karena harus melayani dengan cepat, akhirnya bisa terjadi kecelakaan kerja.

Pengusaha Warteg soal Makan di Tempat Cuma Boleh 20 Menit: Mendingan Dilarang

Warteg di Bandung Bagikan Makanan Gratis ke Driver Ojol. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Selama penerapan PPKM level 4, warung makan harus membatasi durasi makan pelanggannya selama 20 menit. Koperasi WartegNusantara (Kowantara) menilai aturan ini membahayakan.

Ketua Kowantara Mukroni menilai, daripada diberi batasan waktu makan, lebih baik layanan dine-in dilarang saja. Sehingga tak membahayakan pelanggan atau pekerja warung makan.

"Susah (kalau makan harus dibatasi waktu), mendingan larangan itu tidak boleh ada dine-in, tidak perlu dibatasi," ujar Mukroni saat dihubungi kumparan, Senin (26/7).

Makan di Warteg 20 Menit Khawatir Tersedak, Ini Survei soal Lamanya Waktu Makan

Sebuah survei soal waktu yang dihabiskan untuk makan, menunjukkan bahwa makan bersama jadi lebih lama karena diselingi obrolan yang panjang. Hal ini terungkap, memang bukan dari survei di Indonesia, meskipun kecenderungan yang sama terjadi di dalam negeri.

Dikutip dari The Sun, survei terhadap masyarakat Inggris mengungkapkan, makan malam bersama di satu meja, rata-rata menghabiskan waktu 1 jam 4 menit. Waktu selama itu lebih didominasi oleh obrolan, sementara makanannya sendiri bisa habis dalam 10 menit.

Survei yang dilakukan Giovanni Rana, chef spesialis pembuat pasta itu juga menyebutkan, ada lima topik pembicaraan paling populer saat makan malam bersama. Yang terbanyak adalah film dan program tv, isu yang sedang aktual, serta gosip politik.

“Obrolan di meja makaninilah yang memberi kesempatan bagi anggota keluarga untuk berkomunikasi. Bukan hanya membangun kedekatan, tapi juga penting untuk ketahanan mental,” ujar Giovanni Rana.