Makan di Warteg 20 Menit Khawatir Tersedak, Ini Survei soal Lamanya Waktu Makan
·waktu baca 1 menit

Pemerintah mengizinkan makan di warung di daerah PPKM Level 4, dengan waktu maksimal 20 menit. Kebijakan ini merupakan pelonggaran, dibandingkan saat PPKM Darurat ketika terlarang makan di tempat pada seluruh warung dan restoran.
Tapi pelonggaran ini memicu polemik, seperti di kalangan pengusaha warteg yang menganggap waktu 20 menit terlalu singkat.
"Nanti takutnya grusa-grusu (terburu-buru) bisa tersedak, repot yang punya warung. Kalau boleh saya berpendapat, ngawur kebijakan ini atau absurd," ujar Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, saat dihubungi kumparan, Senin (26/7).
Sementara Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang menerbitkan Inmendgari Nomor 24 Tahun 2021, termasuk soal aturan pembatasan waktu makan di warung, menyebut kalau tak banyak bicara dan ngobrol, waktu 20 menit untuk makan sudah mencukupi.
"Jadi makan tanpa banyak bicara, 20 menit cukup, setelah itu berikan giliran kepada masyarakat lain. Tolong pelaku usaha juga memahami itu," kata Tito.
Survei Lamanya Waktu Makan
Sebuah survei soal waktu yang dihabiskan untuk makan, menunjukkan bahwa makan bersama jadi lebih lama karena diselingi obrolan yang panjang. Hal ini terungkap, memang bukan dari survei di Indonesia, meskipun kecenderungan yang sama terjadi di dalam negeri.
Dikutip dari The Sun, survei terhadap masyarakat Inggris mengungkapkan, makan malam bersama di satu meja, rata-rata menghabiskan waktu 1 jam 4 menit. Waktu selama itu lebih didominasi oleh obrolan, sementara makanannya sendiri bisa habis dalam 10 menit.
Survei yang dilakukan Giovanni Rana, chef spesialis pembuat pasta itu juga menyebutkan, ada lima topik pembicaraan paling populer saat makan malam bersama. Yang terbanyak adalah film dan program tv, isu yang sedang aktual, serta gosip politik.
“Obrolan di meja makan inilah yang memberi kesempatan bagi anggota keluarga untuk berkomunikasi. Bukan hanya membangun kedekatan, tapi juga penting untuk ketahanan mental,” ujar Giovanni Rana.
