Kumparan Logo

Mandiri Sekuritas Proyeksi Efek Taper Tantrum ke Ekonomi RI Tak Separah 2013

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pergerakan saham melalui layar di kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta.  Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pergerakan saham melalui layar di kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Mandiri Sekuritas memproyeksi dampak kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang lebih agresif atau taper tantrum terhadap perekonomian domestik nantinya tak akan separah 2013.

Taper tantrum merupakan kondisi di mana bank sentral AS, Federal Reserve, mengubah kebijakan moneternya menjadi ketat, yakni menaikkan suku bunga acuan dan menyetop pembelian US Treasury (tapering off). Hal ini pernah dialami pada 2013. Beberapa waktu lalu, The Fed mengumumkan akan mulai meningkatkan suku bunga acuannya pada 2023.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putera Rinaldy mengatakan, taper tantrum akan berpengaruh pada pasar keuangan Indonesia, utamanya dari sisi portofolio. Namun menurutnya, ekonomi RI akan lebih kuat dibandingkan tahun 2013.

"Ada risiko portofolio volatility, tapi saya melihat kalau ada taper, tapi without tantrum. Jadi tantrum 2013 enggak akan terjadi, dengan 2013 completely different," ujar Leo dalam Mandiri Sekuritas Outlook 2021-2022, Selasa (29/6).

kumparan post embed

Saat ini, cadangan devisa Indonesia juga lebih kuat, yaki sekitar 9,5 bulan impor. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 2013 yang hanya 5-6 bulan impor.

Tak hanya itu, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia juga mengecil menjadi 0,4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Adapun pada 2013, CAD mencapai lebih dari 3 persen PDB.

Leo juga memproyeksi, kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam merespons taper tantrum nantinya juga tak akan seagresif tahun 2012-2013. Apalagi, laju inflasi juga masih akan rendah.

"Kondisi sekarang ini kan recovery cycle, kita expect CAD 2,5 persen, inflasi inline BI, kredit tumbuhnya masih limited, kita enggak lihat demand kayak 2013 lalu yang over heating. Berarti efeknya ke rupiah enggak akan setinggi 2013," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Fix Income Analyst Mandiri Sekuritas, Hendy Yunianto memaparkan, dampak taper tantrum nantinya tak akan sekuat tahun 2013. Saat ini, dominasi asing dalam surat berharga juga mulai menurun.

"Dari sisi dominasi asing, tiga tahun lalu memang tinggi di obligasi kita. Tapi begitu 2020 COVID melanda, asing keluar Rp 160 triliun, porsi asing turun digantikan domestik," jelas Hendy.