Kumparan Logo

Manufaktur RI Ekspansi pada Mei 2026, tapi Tertekan Kenaikan Biaya Produksi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pabrik Manufaktur. Foto: industryviews/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pabrik Manufaktur. Foto: industryviews/Shutterstock

Kinerja manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada Mei 2026. Laporan terbaru S&P Global menunjukkan aktivitas industri manufaktur nasional naik tipis pada level 50,0, dari 49,1 pada April 2026.

Dalam laporan S&P Global Indonesia Manufacturing PMI, tekanan biaya produksi disebut meningkat tajam akibat kenaikan harga bahan baku dan terbatasnya pasokan input produksi. Bahkan, kenaikan biaya operasional pada Mei jadi yang tercepat kedua sejak survei dimulai pada April 2011.

S&P Global mencatat volume produksi manufaktur turun selama tiga bulan berturut-turut, meski laju penurunannya lebih lambat dibanding April lalu.

Di sisi lain, permintaan domestik masih relatif kuat. Pesanan baru meningkat untuk bulan kedua berturut-turut dan menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Februari 2026. Namun, ekspor justru mengalami penurunan paling tajam sejak Agustus 2021.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan industri manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan berat sepanjang Mei 2026.

“Ekonomi manufaktur Indonesia tetap berada di bawah tekanan selama Mei, karena produksi tertahan oleh kenaikan harga bahan baku dan terbatasnya ketersediaan input,” ujar Usamah Bhatti, dalam keterangannya, Selasa (2/6).

instagram embed

Menurut dia, kenaikan penjualan yang terjadi lebih banyak dipicu upaya pelanggan menambah stok di tengah gangguan harga dan pasokan.

“Meskipun perusahaan mencatat kenaikan penjualan yang lebih kuat, hal ini sering kali mencerminkan upaya pelanggan untuk membangun stok di tengah gangguan harga dan pasokan,” katanya.

Menurutnya, pelemahan permintaan ekspor dipengaruhi kondisi geopolitik global dan kenaikan harga.

“Perbaikan permintaan tampaknya terutama terbatas pada pasar domestik karena penjualan ekspor turun pada tingkat terdalam dalam hampir lima tahun,” lanjut dia.

Dalam laporan juga disebutkan, perang di Timur Tengah dan kenaikan harga menjadi faktor utama yang menekan permintaan luar negeri.

S&P Global juga mencatat inflasi biaya input melonjak tajam pada pertengahan kuartal II 2026 dan menjadi yang tertinggi sejak rekor September 2013.

“Inflasi biaya meningkat tajam pada pertengahan kuartal kedua dan merupakan yang tertinggi sejak rekor survei pada September 2013. Hal ini mendorong perusahaan menaikkan harga jual pada laju tercepat dalam lebih dari 12 setengah tahun,” jelas Usamah.

Tekanan harga dan kelangkaan pasokan juga membuat aktivitas pembelian bahan baku melemah. Banyak perusahaan menggunakan persediaan lama untuk memenuhi pesanan akibat sulitnya memperoleh bahan baku baru.

Dari sisi tenaga kerja, perusahaan manufaktur juga kembali mengurangi jumlah pekerja untuk bulan ketiga berturut-turut, meski dalam skala terbatas. Meski demikian, pelaku industri masih optimistis terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan.