Kumparan Logo

Ma'ruf: Kalau Tak Dibudidaya, Hanya 1 Persen Benih Lobster yang Hidup

kumparanBISNISverified-green

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Publik ramai-ramai menolak rencana Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo membuka ekspor benih lobster ke luar negeri. Wakil Presiden Ma'ruf Amin pun ikut berkomentar.

Ma'ruf menyatakan, salah satu pertimbangan pembukaan ekspor karena hanya 1 persen benih lobster yang akan bertahan hidup jika tak dibudidayakan. Tapi kebijakan ini masih dikaji, ekspor benih lobster belum tentu akan dibuka.

"Kan ini kan lagi dikaji. Kita tunggu saja. Katanya kalau lobster itu tidak dibudidaya kan hanya satu persen, kalau dibudidayakan bisa 70 persen," kata Ma'ruf di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (17/12).

Ma'ruf menegaskan, saat ini memang belum ada aturan membolehkan lagi ekspor benih lobster ke luar negeri. "Nah ini kajian-kajian, kita minta dikaji aja, nanti kalau sudah selesai pengkajiannya baru dipublikasi, nanti tanggapannya seperti apa, sekarang kan belum, belum ada kebijakannya belum, sedang dikaji karena masih seperti itu," jelas dia.

Benih Lobster Foto: Antara/Ardiansyah

Edhy Prabowo diketahui berencana membuka keran ekspor benih lobster. Padahal ekspor benih lobster ditutup oleh menteri sebelumnya, yakni Susi Pudjiastuti.

Susi melarang perdagangan benih lobster atau lobster di bawah ukuran 200 gram atau yang berupa benih. Susi juga meminta lobster bertelur tidak dijual-belikan keluar Indonesia. Beleid yang menaunginya adalah Peraturan Menteri Nomor 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan Lobster.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi juga tidak setuju dengan rencana yang digagas Menteri Edhy tersebut. Sebab, kata Dedi, menjual baby atau benih lobster ke luar negeri akan merugikan negara.

Dedi Mulyadi di DPP Partai Golkar. Foto: Jamal Ramadhan/ kumparan

Bisa jadi Indonesia mengekspor benih lobster, lalu mengimpor lobster yang sudah besar dari Vietnam. Harga lobster yang sudah besar tentu jauh lebih tinggi dibanding benihnya.

"Kalau seperti ini (ekspor benih lobster), maka Indonesia malah akan menjadi pengimpor (lobster) dari Vietnam. Sebab, ada kemungkinan besar Vietnam melakukan rekayasa genetika lobster sehingga menghasilkan lobster kualitas unggul," kata Dedi.

"Jadi kalau baby lobster dijual ke Vietnam, kita malah akan memberi peluang kepada mereka untuk mengembangkannya. Misalnya dengan cara kawin silang. Kita nanti akan kalah dengan Vietnam soal lobster," tambahnya.