Kumparan Logo

Masih Didominasi Payroll Based, BSI akan Genjot Nasabah Transaksional

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BSI optimalkan layanan nasabah selama Ramadan, salah satunya dengan membuka weekend banking di 1.024 outlet BSI seluruh Indonesia. Foto: Dok. BSI
zoom-in-whitePerbesar
BSI optimalkan layanan nasabah selama Ramadan, salah satunya dengan membuka weekend banking di 1.024 outlet BSI seluruh Indonesia. Foto: Dok. BSI

Bank Syariah Indonesia (BSI) menyebut saat ini BSI masih didominasi oleh nasabah yang menggunakan BSI untuk sistem penggajian atau payroll based. Karena itu, ke depan BSI berencana untuk meningkatkan nasabah transaksional.

“Memang jumlah customer payroll based cukup banyak, BSI juga lebih dari dua juta kita punya customer yang base-nya payroll. Nah sekarang ini kita akan coba, itu nasabah-nasabah transaksional,” kata Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna dalam Media Briefing Penguatan BUMN Menuju Indonesia Emas di Sarinah, Jakarta Pusat pada Selasa (8/10).

Saat ini, alat digital BSI di pasar yang masih kuat didominasi oleh sistem pembayaran QRIS yang sudah ada di 392 ribu merchant. Sedangkan, mesin Electronic Data Capture (EDC BSI) di pasar hanya tersebar sebanyak 3.305 unit. Untuk meningkatkan nasabah transaksional, Anton menyebut pihaknya akan terus menambah EDC yang ada.

“Kalau kita lihat tadi misalnya dari sisi digital tools kita yang sudah masuk ke market, itu yang paling kuat adalah baru QRIS. Tapi kemudian kita sekarang belum masuk ke misalnya siklus EDC-nya. Jadi kita sedang dorong, kita masih di bawah 5 ribu edisi kita total yang ada di lapangan,” katanya.

Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna (kanan) dan petugas teller BSI saat melayani pelunasan biaya Haji nasabah Bank BSI seiring dengan pulihnya layanan cabang dan ATM Bank BSI. Foto: BSI

Anton bilang, pasar untuk nasabah transaksional sebenarnya sangat besar. Selama ini, banyak transaksi oleh pengusaha yang merupakan nasabah BSI, namun tidak menggunakan alat atau metode pembayaran dari BSI. Hal ini sering membuat dana pihak ketiga sering drop saat akhir pekan.

“Total misalnya berapa ribu bisa pengusaha juta, yang transaksinya misalnya mungkin sekarang sudah nasabah BSI. Tapi kemudian setelah transaksinya itu tools atau device itu belum menggunakan BSI. Dari mana kita tahu? Saya selalu tahu bu, karena setiap hari weekend, dana pihak ketiga kita itu akan drop. Itu mendekati 1 triliun setiap weekend,” katanya.

Nantinya, jika nasabah payroll based sudah banyak beralih ke nasabah transaksional, angka dana pihak ketiga yang drop saat akhir pekan bisa ditekan.

“Yang retail itu masih dominan dari customer-customer yang punya gaji. Kalau itu shifting-nya berjalan dengan baik, maka kita akan lihat nanti itu, apa namanya, transaksinya weekend bisa jadi kita tidak terlalu drop,” lanjutnya.

Soal keamanan nasabah, BSI juga berkomitmen akan belajar banyak hal dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi. Anton juga bilang akan menguatkan investasi Teknologi dan Investasi di BSI.

“Kita belajar banyak lah, dari banyak hal yang terjadi, baik di luar maupun di BSI. Insya Allah dari sisi security dan segala macamnya, kita perkuat. Termasuk investasi kita bisa di, apa namanya, IT, teknologi dan sebagainya,” pungkasnya.

instagram embed