Medco Targetkan Blok Sakakemang Mulai Produksi pada Kuartal III 2027
·waktu baca 4 menit

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menargetkan Blok Sakakemang di wilayah Sumatera bagian selatan mulai berproduksi atau on stream pada kuartal III 2027, lebih cepat dari target operator sebelumnya.
Pada November tahun 2025, Medco resmi mengakuisisi 45 persen hak partisipasi sekaligus menjadi operator di Blok Sakakemang menggantikan Repsol.
Perusahaan juga menguasai 80 persen hak partisipasi di Blok South Sakakemang dan 40 persen di PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).
SVP Business Support Medco Energi, Iwan Prajogi, mengatakan penguatan portofolio di Sumatera bagian selatan menjadi salah satu capaian penting perusahaan selama tahun 2025.
Sebelumnya, perusahaan berhasil meningkatkan kepemilikan saham di Blok Corridor, Sumatera Selatan dari Repsol sebesar 24 persen, menjadi 70 persen. Hal ini berdampak pada penambahan produksi migas sebesar 25.000 barel minyak ekuivalen per hari (mboepd).
"Setelah itu kemudian pada November, kita mengakuisisi 45 persen kepemilikan operator sebelumnya, Repsol, di Sakakemang PSC, sehingga hari ini kita di Sumatra Selatan, itu mempunyai gross production 127.000 barel minyak ekuivalen per hari," jelas Iwan saat sesi diskusi di sela-sela IPA Convex ke-50, Rabu (20/5).
Iwan menyebutkan, Blok Sakakemang saat ini berada pada tahap pengembangan dengan target produksi perdana pada kuartal III 2027. Target ini, kata dia, jauh lebih cepat dari yang ditentukan operator sebelumnya.
Blok Sakakemang juga ditargetkan mencapai tahap persetujuan Final Investment Decision (FID) pada kuartal III 2026.
"Awalnya operator sebelumnya itu menargetkan di kuartal I 2028, tapi sebagai komitmen kita untuk energy security di Indonesia, kita mencoba mempercepat on-streamnya ke kuartal III 2027," ungkapnya.
Dengan target produksi gas bumi 120 juta setara kaki kubik per hari (mmscfd), Blok Sakakemang akan dipercepat pengembangannya melalui penggabungan fasilitas dengan blok yang sudah beroperasi, yakni Blok Corridor yang dikelola Medco E&P Grissik Ltd.
Iwan menjelaskan bahwa strategi Medco E&P yang ingin menggabungkan fasilitas (leverage existing facility) gas bumi tersebut berbeda dengan rencana Repsol sebelumnya yang ingin membangun fasilitas independen di Blok Sakakemang.
"Jadi gasnya itu akan kita bawa ke Grissik, sehingga kita tidak perlu harus membangun fasilitas baru, sehingga dengan demikian wakunya bisa dipercepat, cost-nya bisa ditekan," tutur Iwan.
Dalam gelaran IPA Convex ke-50, Medco E&P Sakakemang B.V. meneken Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) alias Gas Sales Agreement (GSA) Blok Sakakemang dengan dua pembeli, yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Pertama, perusahanan mendapatkan komitmen pembelian gas dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS). Kemudian, perjanjian pembelian gas Blok Sakakemang juga dilakukan dengan PT Pertamina Patra Niaga.
Tulang Punggung Gas Nasional
Iwan menambahkan, selama 4 tahun terakhir, Medco berhasil menjaga laju produksi minyak dan gas bumi (migas) stabil di kisaran 160.000 barel oil equivalent per day (boepd). Lonjakan produksi terjadi pada tahun 2021, yakni dari sebelumnya sekitar 94.000 boepd.
Dari total 16 aset yang sudah berproduksi serta 11 aset dalam pengembangan dan eksplorasi, mayoritas produksi perusahaan adalah gas bumi sebesar 72 persen dan 28 persen sisanya adalah minyak bumi, menjadikannya sebagai salah satu tulang punggung produksi gas nasional.
"Kita itu produksi gas 72 persen dari total produksi kita, dan kalau kita fokus pada kontribusi Medco ke Indonesia itu sekitar 21 persen dari total gas kebutuhan di Indonesia. Jadi kita adalah major gas producer di domestik atau di Indonesia," tegas Iwan.
Jika dilihat dari produksi kotor (gross production), kata Iwan, kinerja Medco saat ini mencapai 340.000 boepd, terdiri dari 250.000 boepd berasal dari aset di dalam negeri, sementara 88.000 boepd sisanya dari aset luar negeri.
Adapun Medco mencatat peningkatan produksi migas hingga 18 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni mencapai 170.000 boepd.
“Produksi migas pada kuartal I 2026 meningkat signifikan dibandingkan total produksi 156 mboepd pada 2025. Semua proyek pengembangan berjalan sesuai jadwal,” ujar Iwan.
Selain Blok Sakakemang dan Blok Corridor, perusahaan juga fokus mengembangkan aset di daerah lain. Misalnya di Sulawesi, Senoro Phase 2A ditargetkan beroperasi penuh pertengahan tahun ini.
Sementara di tingkat regional, Bualuang Phase-1 di Thailand dijadwalkan on stream pada kuartal II 2026. Perusahaan juga memperluas peran strategis melalui operatorship Cendramas PSC di Malaysia yang akan efektif di September 2026.
